
darikita.com, Adu panco biasanya dikenal dengan sebuah permainan adu keukuatan. Banyak orang mengira, panco dilakukan hanya iseng dan untuk mengetes kemampuan tangan otot. Dengan berkembangnya zaman, panco dijadikan sebuah olahraga bahkan memiliki pagelaran turnamen.
Gulat lengan ini dilakukan dengan cara, kedua orang saling berhadapan dan mengenggam tangan lawan. Adapula peraturan, tangan-kosong ditaruh dibelakang atau memegang pegangan yang sudah disediakan. Memaksa lengan lawan untuk turun ke papan atau meja, seperti telentang yang mengartikan simbol kekalahan.
Melakukan adu lengan ini, biasanya digunakan untuk unjuk gigi. Pada tahun 1930 hingga 1950, mulai berkembang. Mulanya, ada beberapa orang yang merasa atau memiliki reputasi sebagai “invincibile”. Lalu Ian Gordon “Mac” Batchelor mulai mengembangkan arm wrestling ini. Ia adalah seorang pemilik bar di Los Angeles, tapi siapa sangka, dirinya sangat lihai dan memiliki kekuatan yang luar biasa.
Dengan keahlian yang dimilikinya, ia diundang ke Auditorium Kedutaan di Loas Angeles pada 16 Desember 1946 untuk diadu dengan peserta lain. Tak heran memang, dia menjuarai daan mendapat gelar “Wrist – Wresting Champion Amerika”.
Makin kesini, mulai banyak kejuaraan tingkat dunia seperti, International Armwrestling Championships, lalu ada WAF (World Armwrestling Federation) Championships, dan berbagai kejuaraan lainnya. Pesertanya akan dikelaskan berdasarkan berat badan dan juga jenis kelamin.
Di Indonesia sendiri, banyak wadah yang bisa disalurkan untuk olahraga ini. Ada Persatuan Olahraga Panco Indonesia (POPI), dan ada juga Persatuan Olahraga Gulat Tangan Indonesia (POGTI). Belum berkembangnya olahraga ini dikancah dunia, Komite Olahraga Nasional pun belum membawahi kegiatan panco ini. Namun, bagi yang sanggup, tidak ada salahnya mencoba membuat tangan lawan ‘terlentang’ dan mendapat gelar yang terkuat. (Ravi/dk)













