banner

Anak Butuh Orangtua Kreatif

darikita 13 April 2016
MASKOT PON: Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Dr Hj Netty Prasetiyani Heryawan MSi memberikan maskot PON XIX kepada ketua TIM PKK, Wakil Ketua DPRD Kuningan dan Kepala BKBPP Kuningan Dra Hj Poppy N Puspitasari. Selain memberikan materi tentang pentingnya pendidikan keluarga untuk anak, Netty meminta dukungan agar PON di Jawa Barat bisa berjalan dengan sukses. Foto diabadikan Selasa (12/4)
vertical banner

darikita.com, KUNINGAN – Seminar Parents Gathering dengan tema “Mendidik Dengan Cinta” benar-benar membuat peserta puas. Kendati banyak yang tidak kebagian tempat duduk tapi mereka semangat mendengarkan materi dari Kak Seto Mulyadi dan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat Dr Hj Netty Prasetiyani Heryawan MSi.

netty
PAPARAN MATERI: Ketua P2TP2A) Dr Hj Netty Prasetiyani Heryawan MSi sat memaparkan materi parenting.

Kurang lebih ada sekitar 5.000 lebih peserta hadir di GOR Ewangga Kuningan (dari target 4.000). Mereka sejak Selasa pagi (12/4) sekitar jam 7.00 pagi sudah hadir karena materi yang disampaikan sangat penting dalam mendidik anak.

Peserta terdiri dari para guru mulai PAUD, SD, SMP hingga SMA. Bukan hanya guru tapi juga anggota Tim PKK, Darma Wanita, ormas dan juga tampak para pelajar. Kaum pria pun banyak yang hadir karena mendidik anak merupakan tugas bersama.

Hj Netty mengatakan, kegiatan seminar ini digelar karena keprihatinan terhadap jumlah kekerasan terhadap anak yang terus meningkat. Dengan adanya seminar minimal para orang tua paham bagaimana mendidik dan melindungi anak agar tidak menjadi korban kekerasan.

Apalagi, kata dia, dari data diperoleh 38 persen pelaku kekerasan adalah orang terdekat atau berada di lingkungan keluarga. Bagi dia, hal itu harus menjadi catatan karena factor ketidakwaspadaan, akan berakibat buruk bagi anak ketika menjadi korban.

”Banyak kasus yang membuktikan hal itu dan terjadi dinyaris semua daerah di Jabar. Kekerasan kepada anak baik seksual atau pun verbal akan “membunuh” si anak. Sehingga mereka tidak akan bisa berkembang karena rasa trauma,” papar Netty.

”Agar kasus tidak terjadi maka kita harus membuat ruang ramah bagi anak-anak,” tambahnya.

Dia menyebutkan, ada tiga jenis orang tua yakni orang tua nyasar. Ciri-ciri orang tua ini adalah menjadikan anak sebagai beban dan juga selalu perhitungan dalam mengeluarkan biaya.

Kemudian, orang tua bayar. Jenis orang tua seperti ini mempercayakan segala sesuatu dengan meteri. Sebagai contoh mereka menyekolah ke sekolah yang bagus, dan banyak hal. Ketika anaknya gagal, kemudian menyalahkan lembaga sekolah. ”Padahal kewajiban orang tua adalah mendidik anak,” tegasnya.

Lalu, untuk kategori jenis orang tau ketiga adalah orang tua sadar. Mereka mendidik anak sesuai dengan yang seharusnya, sehingga jenis ini sukses dalam mendidik anak.

Netty memberikan contoh, ketika dia bersama sang suami memutuskan untuk menikah komitmen dengan tiga hal dalam mendidikan anak. Ketiga  hal itu adalah beri arahan, pilihan dan alasan.

”Saya berharap mulai dari sekarang ubah dalam pola mendidik anak. Sebab, kalau tidak seperti itu anak akan mencari di luar dan pada akhirnya akan menjadi korban kekerasan,” harap Netty.

Sementara itu, Kak Seto Mulyadi yang memberikan materi kurang lebih 45 menit mengingatkan, kekerasan pada anak akan membuat anak lari dari keluarga. Untuk itu maka dalam mendidik anak harus lebih mengedepakan cinta.

”Semua anak memiliki bakat masing-masing sehingga ambisi orang tua jangan dibebankan kepada anak. Sebagai  contoh pesebakbola Maradona, andai saja saat sekolah oleh orang tuanya ditarget harus memiliki nilai matematik 8 mungkin tidak akan menjadi pemain bola. Begitu juga dengan anak kita,” jelasnya.

Impian anak, kata dia, adalah sekolah dan rumah yang ramah anak. Pada dasarnya semua anak senang belajar tinggal orang tua yang pintar dan tentu harus memiliki kreativitas.

”Kalau jadi orang tua harus kreatif dalam mendidik. Sehingga anak akan marasa nyaman. Ingat jangan sekali memukul atau melakukan tindakan kekerasan karena itu tidak benar,” jelas dia.

Mulai sekarang, kata dia, agar di setiap daerah tidak terjadi kekerasan pada anak, maka perlu dibentuk Satgas Perlindungan Anak dari mulai tingkat RT/RW.  Sehingga akan tercipta Kabupaten Kuningan sebagui daerah ramah anak.

Sementara itu, Wakil Bupati Kuningan H Acep Purnama menerangkan, kegiatan seminar dalam mendidik anak merupakan hal penting dalam upaya menekan jumlah kekerasan anak. Bukan hanya di Kuningan tapi di seluruh Indonsia.

”Masalah mendidik anak menjadi tanggung jawab. Sehingga kita mulai dari sekarang menerapakan pola yang benar,” ucap Acep. (mus/rie)

Untuk Anda
Terbaru