BANDUNG – Luapan sungai Citarum yang kerap terjadi di Kabupaten Bandung, hingga saat ini belum juga tertanggulangi dengan baik. Selain warga, para siswa harus belajar di pengungsian terhitung sepekan terakhir.
Sejauh ini sarana pendidikan yang terendam di antaranya SDN 1 Andir Kecamatan Baleendah, SDN VII, SDN X Dayeuhkolot, SDN I dan II Bojongasih Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Semangat belajar pun harus dilampiaskan dengan memaksakan diri belajar di tempat pengungsian.
Berdasarkan pantauan, para siswa belajar di beberapa ruang di asrama SKB. Tidak ada kursi, meja belajar atau papan tulis. Para siswa belajar dengan lesehan. Selain itu, ruangan yang sempit membuat siswa terpaksa berdesak-desakan belajar.
Kepala Sekolah SDN 1 Andir Ade Supriyadi, 53, mengatakan, sekolah terendam banjir sejak Rabu (26/10) hingga saat ini. Dengan ketinggian banjir mencapai 150 hingga 160 sentimeter. Akibatnya, KBM siswa kelas 1 sampai kelas 6 yang berjumlah 284 orang dialihkan ke GOR Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).
”Siswa tidak semuanya ikut belajar di sini (pengungsian, Red). Sebab, masih ada anak yang di lokasi banjir dan tidak mengungsi,” kata Ade saat ditemui di Asrama SKB, kemarin (2/11).
Ade mengungkapkan, kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak boleh sampai terhenti. Meski banjir, dia pun tetap berupaya membujuk para siswa dan orangtua untuk mengikutsertakan anak mereka belajar.
”Mudah-mudahan banjir cepat surut. Dengan begitu, siswa bisa kembali belajar normal di sekolah,” ucapnya.
”Kami sangat berharap ada perubahan. Kami tidak tega anak-anak belajar di pengungsian,” sambungnya.
Lain lain cerita Guru SDN 7 Dayeuhkolot Yanti Hadiyanti. Dia mengungkapkan, ketika banjir merendam, maka KBM dilaksanakan di rumah warga. ”Siswa enggan datang ke pengungsian. Makanya kami memberikan pelajaran di rumah warga,” urai Yanti.













