banner

Dagelan Ratna Berdampak ke Prabowo-Sandi

darikita 4 Oktober 2018
BERI DAMPAK: Arlan Siddha, Pengamat Politik UNJANI Cimahi menilai hoaks yang disampaikan Ratna Sarumpaet bisa berdampak buruk bagi Prabowo
vertical banner

CIMAHI – Informasi bohong yang disampaikan Ratna Sa­rumpaet, dapat berdampak buruk pada pencalonan Pra­bowo Subianto. Apalagi Rat­na diketahui merupakan Juru Kampanye Nasional (Jurkam­nas) pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hal itu dikatakan Pengamat Po­litik dan Pemerintahan Uni­versitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Arlan Siddha.

Sebagai informasi, semula santer informasi tentang du­gaan penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet saat men­ghadiri sebuah acara di Bandung, 21 September 2018. Kemudian, kemarin (3/10) dalam jumpa pers dengan para wartawan, dia sendiri melakukan pembantahan. Ratna pun menyampaikan permohonan maaf pada Pra­bowo Subianto dan Amien Rais, karena telah menyam­paikan informasi bohong.

”Kekhawatiran saya atas informasi hoaks ini, justru bisa berbalik menjadi sesua­tu yang berdampak buruk bagi Prabowo,” ujar Arlan Sida saat dihubungi Jabar Ekspres melalui sambungan telepon, kemarin (3/10)

Meski demikian lanjut Arlan, masyarakat perlu menyikapi adanya hal seperti itu, agar tidak muncul kebencian. Penyele­saian bisa juga dengan cara melalui jalur hukum yang dila­kukan oleh aparat kepolisian, lantaran kabar hoaks tersebut sudah dicerna masyarakat luas.

”Sampai banyak statement pe­mukulan ini sesuatu yang ber­sifat politis. Masyarakat berpi­kir pelakunya tidak akan di­tangkap, jadi saya pikir harus ada sikap yang tegas dari apa­rat kepolisian,” katanya.

Menurut Arlan, jika kabar itu merupakan strategi politik, kemungkinannya ada dua, yang pertama bisa menguntungkan kubu Prabowo apabila kabar pengeroyokan tersebut benar terjadi karena seorang pejuang aktivis yang mendukung #2019GantiPresiden, tetapi mengalami aksi kekerasan.

”Sayangnya informasi hoaks tersebut, hanya akan memun­culkan bukan simpati atau empati masyarakat. Justru ma­syarakat akan geram karena tidak percaya yang dilakukan Ratna ke depan saat mendukung Prabowo,” katanya.

Disinggung pengakuan Ratna Sarumpaet yang menga­kui dirinya telah menciptakan kebohongan dengan menga­ku mengalami pengianayaan sehingga wajahnya penuh dengan lebam.

Menurut Arlan, langkah tersebut sudah tepat, untuk menyelesaikan adanya be­rita hoaks ini dengan menje­laskannya ke publik, tetapi aparat kepolisian tetap harus memutuskan rantai berita hoaks tersebut.

”Itu agar berita hoaks ini tidak terus dikonsumsi masyarakat termasuk para pendukung Prabowo. Sebelum adanya pernyataan resmi dari polisi kan berita ini terus dikonsum­si masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu karena me­nyebut kasus dugaan penga­niayaan berada di wilayah hukum Jawa Barat. Jajaran kepolisian terus melakukan penelusuran informasi itu ke sejumlah rumah sakit teru­tama yang berada di wilayah hukum Polres Cimahi. Ka­rena Ratna, disebut-sebut sempat singgah disalahsatu rumah sakit di Cimahi.

Kasat Intelkam Polres Cimahi, AKP Agus Nur Arsyad menga­ku, pihaknya sudah melaku­kan pengecekan kesejumlah Rumah Sakit yang ada di Wi­layah hukum Polres Cimahi.

”Kami hanya melakukan pengecekan saja, tadi baru ke delapan rumah sakit di Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat,” ujar Kasat Intelkam Polres Cimahi, AKP Agus Nur Arsyad saat dikon­firmasi, kemarin (3/10).

Dari hasil penelusuran yang dilakukan, pihaknya memas­tikan pada 21 September 2018 tidak ada pasien atas nama Ratna Sarumpaet. Hal tersebut diketahui setelah, pihaknya turun langsung melakukan pengecekan ke setiap rumah sakit dan meminta keterangan ke bagian humas rumah sakit.

”Hasilnya tidak ada pasien atas nama Ratna Sarumpaet di setiap rumah sakit yang telah kita cek,” katanya.

Dia menjelaskan, beberapa rumah sakit di Cimahi yang telah dilakukan pengecekan diantaranya Rumah Sakit Mitra Kasih, RSUD Cibabat, di Jalan Amir Mahmud dan Rumah Sakit Kasih Bunda di Jalan Ma­harmartanegara dan Rumah Sakit Dustira di Jalan Dustira.

Sedangkan RS yang ada di Kabupaten Bandung Barat di­antaranya, Rumah Sakit Umum Cililin, RSUD Cikalong Wetan dan RSU Cahaya Kawaluyan di Kota Baru Parahyangan dan Rumah Sakit UKM Taman Kopo Indah III, Margaasih di Kabupaten Bandung.

”Jika kabar itu memang be­tul adanya kami masih akan terus menelusurinya,” jelasnya.

Sementara itu, saat Jabar Ekspres mencoba melakukan penelusuran di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciba­bat dan RS Mitra Kasih, salah seorang staf kedua rumah sakit tersebut mengatakan memang tidak ada nama pasien atas nama Ratna Sarumpaet.

”Tidak ada, tadi juga polisi menanyakan soal pasien Rat­na Sarumpaet. Polisi kesini kemarin jam 7 malam,” ujar Riani staf bagian Medical Record Rumah Sakit Mitra Kasih.

Senada dikatakan Ahmad, staf bagian pendaftaran RSUD Ciba­bat, bahwa pihaknya tidak pernah menerima pasien atas nama Ratna Sarumpaet. Hal itu diketa­hui setelah pihaknya mengecek nama daftar pasien. “Tidak ada nama pasien atas nama Ratna Sarumpaet,” singkatnya.

Sementara itu, Ketua DPP Partai Gerindra, Ahmad Riza mempertimbangkan posisi Ratna Surampaet sebagai juru kampanye dalam tim badan pemenangan nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

”Salah dong itu, enggak bener berarti dia (Ratna). Ya yang ber­sangkutan nanti akan kita per­timbangkan (apakah) terus dalam tim atau tidak,” ujar Riza seperti dilansir dari Antara.

Riza menjelaskan Partai Gerindra menjadi pihak yang dirugikan atas pernyataan bohong Ratna yang mengaku luka akibat dikeroyok padahal itu akibat kesalahn tindakan bedah plastik sedot lemak.

”Tentu kami pohak yang diru­gikan atas apa yang disampaikan beliau (Ratna) terkait berita-berita sebelumnya,” ujarnya.

Wakil Ketua DPR-RI Fahri Hamzah menyayangkan sikap Ratna yang sudah membohongi orang-orang penting di bangsa ini. Bahkan, kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet ini menjerumuskan dirinya ke da­lam lembah dusta. Hal ini se­penuhnya diketahui Ratna.

”Setelah pengakuan Ibu Ratna tentang kasusnya ini, mengandung beberapa di­mensi persoalan. Pertama, di wilayah persoalan pribadi tentu ada banyak misteri ten­tang kenapa orang berumur 70 tahun membiarkan dirinya jatuh ke dalam lembah kete­rangan dusta, dan kesaksian palsu yang dia sampaikan kepada orang-orang penting, bahwa operasi plastiknya dia adalah sebuah penganiayaan,” kata Fahri Hamzah lewat pe­san suara ke Fajar Indonesia Network, kemarin (3/10).

”Saya membayangkan ba­gaimana Wakil Ketua DPR (Fadli Zon-red), Capres Pra­bowo Subianto, Prof Amien Rais dan orang-orang penting lainnya yang mendengar langsung dari yang bersang­kutan, harus percaya bahwa apa yang terjadi terhadap dirinya adalah sebuah peng­aniayaan. Ini misteri pribadi Ratna,” tambah Fahri.

Dikatakan Fahri, kebohong­an Ratna ini memiliki dimensi politik, karena pengakuan awal Ratna sudah menjadi isu poli­tik dan mampu membuat riuh politik bangsa. ”Apa yang ter­jadi beberapa hari ini dan pengakuan Ibu Ratna itu telah menjelma menjadi isu politik, yang membuat kehidupan po­litik dan jagad politik kita cukup gaduh di tengah situasi kita seperti ini,” jelas Fahri.

Politisi Partai Keadilan Se­jahtera (PKS) ini melanjutkan, kebohongan Ratna Sarum­paet ini ada konsekwensi, baik secara sosial maupun politik. Namun, yang terpenting da­lam kebohongan ini adalah yang bersangkutan cukup dimaafkan atau memiliki kon­sekwensi hukum.

”Saya kira itu akan punya kon­sekuensi, baik secara sosial mau­pun poltik. Tetapi yang terakhir yang lebih penting adalah me­nelisik apakah kelakuan seper­ti ini cukup dimaafkan atau dia memiliki konsekuensi hukum, terutama kepada Ibu Ratna sen­diri yang telah secara tega mem­beri keterangan bohong kepada orang-orang penting itu,” tegas Fahri.

Politisi asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu pun menambahkan, kejadian semacam ini diharapkan tidak terulang lagi ke depan. Sebab kebohongan mampu membuat kegaduhan di tengah-tengah ma­syarakat, dan bahkan melahirkan kemarahan dari pihak-pihak yang merasa kasihan terhadap kon­disi Ratna Sarumpaet yang menga­ku dianiaya.

”Jadi ini kompleks prosesnya. Saya lebih cenderung supaya peristiwa ini tidak terulang, maka harus tetap ada konse­kwensi kepada pribadi-priba­di tertentu untuk bertangung jawab. Karena apapun peritiwa ini telah terjadi dan mengaki­batkan di masyarakat kita mun­cul kesimpang-siuran. Bahkan sempat melahirkan kemarahan, untung kemarahannya tertahan dan tidak berlanjut, tentu ber­bahaya sekali. Ini memiliki dimensi hukum yang perlu dikaji oleh penegak hokum,” tutup Fahri. (rba/ziz/ign)

Untuk Anda
Terbaru