banner

Harga Daging Kembali Normal

darikita 25 Januari 2016
AMRI RACHMAN DZULFIKRI/BANDUNG EKSPRES PANTAU: Gubernur Ahmad Heryawan dan Ketua KPPU Syarkawi Rauf menanyakan harga ayam saat sidak di Pasar Cihaurgeulis, Minggu (24/1). KPPU akan selidiki kebijakan pemusnahan 6 juta stock parents.
vertical banner
Gubernur Pantau Pasar Cihaurgeulis

darikita.com, Harga daging sapi yang terus meroket membuat Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bersama Komisi Pengawasan Persaingan Usaha pantau sejumlah harga komoditi daging ayam dan daging sapi di Pasar Cihaurgeulis, kemarin.

Pantauan ini perlu karena melonjak drastisnya harga daging sapi pasca kebijakan penerapan Pajak Pertambahan Nilai 10 persen untuk sapi impor. ’’Kedatangan kami lebih mengecek harga, namun alhamdulillah untuk daging sapi sudah turun, begitu juga harga daging ayam, yang awalnya Rp 40.000/kilogram sekarang sudah Rp 36.000/kilogram sampai Rp 39.000/kilogram, akan tetapi harga demikian belum bisa dikatakan stabil,” tukas Heryawan.

Untuk harga daging sapi ketika ada penetapan PPN 10 persen bisa mencapai Rp 140.000/kg hingga Rp 150.000/kg, setelah dicabut, harga daging turun ke kisaran harga Rp 120.000/kg. ’’Kami coba untuk mengetahui apa penyebab kenaikan harga ini, pasalnya kenaikan harga dimulai dari sebelum tahun baru lalu,” ujarnya.

Dirinya tak menepis, kenaikan harga daging sapi disebabkan adanya kebijakan PPN 10 persen untuk sapi impor, yang menimbulkan gejolak. Namun setelah pemerintah revisi dan cabut kebijakan tersebut, harga daging sapi kembali normal.

’’Yang jelas pencabutan PPN berdampak ke masyarakat, memang belum sepenuhnya normal, tapi berangsur-angsur. Ya, dua atau tiga hari lagi normal. Yang jelas semua pihak harus mengawasi,” imbaunya.

Heryawan menuturkan, pihaknya bakal terus lakukan pengontrolan secara rutin dan menghindari adanya praktek penimbunan komoditi tersebut. Tak hanya itu, dirinya juga tak ingin ada kecurangan dalam proses distribusi, meskipun harga belum kembali ke semula.

’’Harga semula untuk daging ayam hanya berkisar Rp 34.000/kg, bahkan sempat mencapai Rp 29.000/kg. tentunya ini adalah kisaran harga paling tinggi untuk Jawa Barat, khususnya Kota Bandung. Tapi di Tasikmalaya atau Ciamis sebagai sentra penghasil ayam, harganya pasti lebih rendah,” klaimnya.

Dalam rangka mengetahui apa penyebab kenaikan harga ini, Heryawan menyerahkan seluruhnya kepada KPPU agar temukan kebijakan baru. Namun dirinya menekankan kebijakan tersebut harus berpihak kepada pedagang, peternak, juga pembeli.

’’Jangan sampai kebijakan nanti memberatkan pembeli bahkan pedagang atau peternak. Kami menekankan lebih kepada stabilisasi harga, kalau murah banget pedagang dan peternak kasihan, kalau terlalu mahal pembeli yang kasihan, jadi harus ada kontrol,” ucap politikus Partai Keadilan Sejahtera itu.

Sementara, KPPU akan segera memanggil pihak-pihak terkait dalam rantai perdagangan ayam, mulai dari parent stock (penghasil Day Old Chick), produsen DOC, dan pakan. Hal itu demi mengetahui apa penyebab meroketnya harga daging ayam.

Ketua KPPU Syarkawi Rauf menyebut, ada dua perusahaan besar perdagangan produsen ayam ras di Indonesia ini, yakni PT Carung Pokpan dan PT Java, keduanya akan akan dipanggil pada Senin mendatang. ’’Langkah selanjutnya adalah mengirimkan rekomendasi kepada Kementrian Pertanian agar pemusnahan parent stock dihentikan,” imbun Syarkawi.

Menurut Komisioner KPPU termuda ini, pemusnahan parent stock ayam bisa berdampak pada kelangkaan DOC. Untuk itu, pihaknya pun akan meneliti mengenai dampak dari pemusnahan parent stock terhadap pasokan DOC peternak.

’’Kedua yang ingin kita fokus adalah kita akan melihat apakah kenaikan harga dipasaran ini disebabkan oleh perilaku yang bersifat anti persaingan atau persaigan tidak sehat,” ucap dia.

Pihaknya bakal melakukan investigasi apakah ada tindakan yang mengarah kepada sistem kartel atau dalam bentuk persekongkolan antar pedagang besar dengan peternakan besar sebab saat ini ada dua perusahaan besar industri ayam di tanah air ini. ’’Kita akan sampai kesitu proses penelitiannya atau bahkan proses penyelidikannya,” tegas Syarkawi.

Karena menurut penelusuran yang telah dilakukan KPPU, ditemukan bahwa para peternak memang kekurangan DOC yang disebabkan oleh kurangnya pasokan dari pemilik parent stock yang telah memusnahkan DOC, sehingga produksinya turun. (yan/vil)

Untuk Anda
Terbaru