darikita.com, ANDIR – Meski Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (APDASI) Kota Bandung sudah menghentikan aksi mogok berjualan, namun itu tak cukup untuk menurunkan harga daging sapi. Di sejumlah kawasan harga komoditas daging sapi nyatanya masih mahal.

PANTAU OPERASI PASAR: Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan melakukan inspeksi mendadak memantau operasi pasar daging sapi di Pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Rabu (12/8). Sidak dilakukan mengingat masih mogoknya para pedagang daging sapi sejak akhir pekan lalu.
Ketua APDASI Kota Bandung Endang Mubarok menjelaskan, hal tersebut terjadi karena pasokan sapi potong (pemasok sapi) masih ada penurunan.
’’Mereka belum bisa menurunkan harga sesuai harapan kita. Tapi, hari ini (kemarin, Red) pengadaan sapi sudah mulai normal,’’ ujar dia kepada Bandung Ekspres, di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Bandung.
Dia mengatakan, kebutuhan konsumsi daging sapi Kota Bandung per harinya mencapai 250 hingga 350 ekor. Angka tersebut, kata dia, tak sebanding dengan stok pemkot yang hanya bisa menyanggupi 90 hingga 100 ekor sapi per harinya.
Dengan begitu, pemasok terbesar daging di Kota Bandung merupakan jenis impor. Kuotanya bisa mencapai 90 persen dari jumlah sapi potong yang dikehendaki Pemkot. ”Yang lokal itu malah 10 persen,” tegas dia.
Endang menjelaskan, aksi massanya beberapa waktu lalu merupakan langkah protes terhadap pemerintah pusat yang menurunkan kebijakan untuk mengurangi kuota sapi impor, dari 250.000 ekor per tahun, menjadi 50.000. Sementara kondisi di dalam negeri, sapi lokal belum bisa memenuhi kebutuhan pasar. hal itu berefek pada harga daging di pasaran yang akhirnya melonjak tajam.
’’Harga sebelum Lebaran, Rp 36 ribu per kilogram (timbang hidup), Rp 73 ribu harga karkas (tulang). Jadi kalau dipasaran kisaran Rp 90 – Rp100 ribu. Intinya ingin harga daging di bawah Rp 100 ribu,’’ paparnya.
Mengenai adanya Operasi Pasar (OP) yang digelar Bulog Pusat, Endang menjelaskan, langkah tersebut tidak menjadi solusi masyarakat untuk mendapatkan daging dengan kualitas yang dibutuhkan.
Enang mengatakan, kualitas daging beku yang dijual selama OP, tidak akan terpakai oleh para pedagang bakso, dan para pengusaha daging olahan.
’’Saya juga bisa jual yang kayak gitu. Jangan besok, sekarang juga bisa. Tapi itu lain lagi, karena kebutuhan kita bukan itu,” ungkapnya.
”Kita butuh untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat yang biasanya butuh sapi potong, bukan dari daging dus (daging beku). Jelas kualitasnya beda,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Distan Kp Kota Bandung Elly Siti Wasliah menjelaskan, para pedagang sudah kembali berjualan sejak Rabu siang. Dengan adanya pemotongan sapi yang di lakukan di kantornya, merupakan simbol kembalinya aktivitas pemotongan di dua Rumah Pemotongan hewan (RTH) yaitu Cirangrang dan Ciroyom di Kota Bandung. Namun, dia mengaku, memang belum ada penurunan harga yang signifikan.
’’Alhamdulilah kita sudah melakukan pemotongan sapi pertama setelah adanya aksi mogok dagang yang dilakukan APDASI. Mulai hari ini dan seterusnya penjualan daging akan terus berjalan. Bahkan daging yang saat ini dipotong akan langsung dikirim ke Pasar Induk Caringin,’’ ujar dia.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memastikan harga daging sapi sudah kembali normal setelah dilakukan operasi pasar. Kepastian tersebut setelah ada komunikasi dengan APDASI untuk tidak kembali melakukan aksi mogok berjualan.
”Sebetulnya antara pedagang dan Feedlotfer (Pemasok Sapi Hidup) tidak ada masalah dan bisa berjualan dengan catatan harga harus diturunkan,” paparnya.
Menurutnya, bandar pemotong dan penjual daging sapi ini sebetulnya tidak ada masalah untuk berjualan kembali. Tapi dengan catatan harga di feedlotfer turun. Sebab kalau Fedlotfer memberi harga tinggi sulit juga bagi apdasi untuk menjualnya kembali karena terlalu mahal. Wajarnya timbangan hidup di kisaran Rp 36.000 hingga Rp 38.000 per kilogram.
”Jadi kuncinya feddlotfer segera melepas harga daging sapi hidup sesuai dengan harga yang berlaku. Sehingga daging bisa di jual kembali,” ucap Aher.
Dia menghimbau agar Feedtlofer jangan menahan-nahan daging sapi. Sebab bisa bermasalah pada hukum apalagi daging sangat dibutuhkan masyarakat. Lebih lanjut, dia menuturkan saat ini ketersediaan daging sapi di Bulog masih sangat cukup untuk 3 bulan ke depan.
Aher menyebutkan, Bulog Jabar masih punya persediaan 250 ton. ”Jadi jangan khawatir persediaan di Bulog cukup dan selama 4 hari operasi pasar Bulog telah menghabiskan 7 ton daging sapi beku,” tuturnya. (yan/rie)













