banner

JAM, Teknologi Antisadap Karya Anak Bangsa

darikita 9 Desember 2015
FAJRI ACHMAD NF / BANDUNG EKSPRES PRODUK LOKAL: Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu meninjau produksi jaringan telekomunikasi khusus, Jaringan Aman Mandiri (JAM).
vertical banner

TNI Getol Uji Coba, Rencana Diaplikasikan 2016

darikita.com, Kementerian Pertahanan saat ini tengah menjajaki kerjasama dengan PT Hariff Daya Tunggal Engineering untuk pengembangan jaringan aman mandiri (JAM). Teknologi karya anak negeri tersebut diklaim sebagai sistem komunikasi yang aman dari penyadapan.

Secara khusus, Menteri Pertahanan Jenderal Purnawirawan Riyamizard Ryacudu melihat langsung live demo dari telekomunikasi JAM tersebut. Teknisnya, Menhan melakukan komunikasi langsung dengan mabes TNI dan Kemenhan via JAM.

Menyikapi live demo tersebut, Menhan mengatakan, kebutuhan akan teknologi telekomunikasi dengan jaringan aman dan mandiri mutlak diperlukan. Sebab, negara mana pun, termasuk Indonesia selalu dalam bayang-bayang penyadapan. Contohnya penyadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu.

”Bagaimana semua negara tidak diawasi (sadap, Red), toh teknologinya (hardware dansoftware) mereka yang bikin. Ya sudah pasti ada penyadapan,” tuturnya di pabrik PT Hariff usai live demo, di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 450, Kota Bandung, kemarin (7/12).

Dengan adanya teknologi telekomunikasi dalam negeri tersebut, kata dia, tingkat penyadapan dari pihak asing pun bisa dikurangi. Sebab, pengembangan alat hingga jaringannya benar-benar dikelola oleh Indonesia, dalam hal ini PT Hariff. ”Kalau memang dari hardware dan software-nya Indonesia yang bikin, tentu tingkat risiko kebocoran akan lebih berkurang. Terlebih, di sini PT Hariff juga mengembangkan sistem pengamanan sendiri,” tuturnya.

Disinggung kapan teknologi tersebut akan diaplikasikan di TNI, Menhan belum bisa memastikan hal tersebut. Yang pasti, saat ini staf TNI masih melakukan rangkain uji coba pada sistem tersebut. Terlebih, kata dia, JAM tersebut juga bisa mengaplikasikan Battlefield Management System (BMS), yaitu kesalahan tembak pada tank dalam satu kesatuan ketika teknis peperangan.

‘”Semoga tahun depan (2016) bisa kita aplikasikan. Sementara ini, kami masih uji coba semua. Sebab, tadi saya dengan juga JAM itu juga terkoneksi pada drone yang memungkinkan pengawasan daerah perbatasan tanpa awak,” urainya.

Menyikapi hal itu, Presiden Direktur PT Hariff Daya Tunggal Engeenering Budi Permana memaparkan, JAM bisa digunakan untuk operasional taktis TNI dan komunikasi teritorial. Sebab, JAM bisa menjalankan aplikasi pengambilan data dan video melalui drone. Kemudian, BMS memungkinkan pusat komando untuk bisa memonitor semua alutsista yang terkoneksi dari pusat komando (keamanan komunikasi dibentengi enkripsi). Teknisnya, setiap alutsista yang sudah dilengkapi JAM, selain bisa diketahui titik koordinat, juga bisa diawasi oleh pusat komando dalam tampilan video.

”Dan kami pastikan sistem komunikasi ini antivirus serta antisadap. Sebab, sudah dilindungi oleh enkripsi dari kedua belah pihak (PT Hariff dan TNI atau institusi lain yang menggunakan teknologi itu),”’ papar pria memimpin pemberian ide serta pembuatan mobile BTS yang digunakan oleh salah satu provider seluler Indonesia itu.

Bagi dia, pemanfaatan JAM akan memungkinkan adanya jaminan sistem kerahasiaan informasi negara. Di samping itu, JAM juga berdampak positif pada aspek politik, keamanan, sosial dan ekonomi. ”JAM memberikan persepsi baru untuk jalur komunikasi operasi TNI. Sebab, bisa dikombinasikan dengan backbone satelit sehingga lebih efisien. Khususnya untuk pengawasan dan patroli pulau terluar,” ujar pencetus dan pelaksana kios telepon bersama Telkom era 1990-an.

Disinggung mengenai kemungkinan kepentingan komersil, Budi mengatakan, JAM tidak tertutup kemungkinan bisa dipasarkan untuk komunikasi antar lembaga negara dari pusat hingga ke daerah (kabupaten). Demikian haknya jalur komunikasi khusus untuk PPDR (public protection disaster relief) di tiap kabupaten hingga keamanan data dalam e-voting. ”Termasuk keamanan data dan nasabah di perbankan,” kata Budi yang diamini oleh Akhmad Sariwijaya, Direktur Utama PT Starcom Solusindo, afiliasi PT Hariff.

Untuk diketahui, PT Hariff memiliki jejak panjang bersama pertahanan nasional. Salah satunya ketika dipercaya membuat sistem ground communication satellite dan mobil Satcom. Perusahaan yang didirikan enam jebolan Institut Teknologi Bandung tersebut juga menjadi perancang dan pabrikasi pengacak audio antisadap pada radio HT untuk keperluan operasi militer TNI. Termasuk, jamming atas radio broadcast untuk mencegah intimidasi dan provokasi saat perang.

Sementara itu, dari sisi komersil, PT Harrif juga menjadi penyedia produk power system yang terinstal di 57.000 sistem di site BTS operasional seluler Indonesia. (rie/a1)

Untuk Anda
Terbaru