banner

Hebat! SMKN 7 Produksi Hand Sanitizer

admin darikita 18 Maret 2020
vertical banner

BANDUNG-Para siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 7 Kota Bandung patut diapresiasi dan diacungkan jempol. Pasalnya, sekolah yang terletak  di Jalan Soekarno Hatta No 596 itu berhasil mencetak para siswanya yang mampu memproduksi hand sanitizer. Diketahui, hand sanitizer ini merupakan antiseptik yang bisa membantu untuk membunuh mikroba yang menempel pada tangan. Termasuk untuk mencegah penyebaran virus korona.

Kepala Program Farmasi Industri SMKN 7 Kota Bandung Ivan Isroni mengatakan, para siswa di sekolah tersebut telah membuat hand sanitizer itu sejak 2012 silam.

Ia mengatakan, hand sanitizer tersebut memiliki kandungan bahan alami yang terbuat dari daun sirih (produk jurusan Farmasi Industri) dan lidah buaya (produk dari jurusan Kimia Industri).

“Sebenarnya ini sudah menjadi program para siswa sejak 2012 lalu sebagai aplikasi dari pelajaran Produk Kreatif dan Kewirausahaan (PKK). Jadi, produk ini dibuat bukan karena ada virus korona (covid-19),” terang Ivan, di laboratorium Farmasi Industri SMKN 7 Kota Bandung, Senin (16/3) petang.

Menurut Ivan, produk hand sanitizer diproduksi oleh siswa jurusan Farmasi Industri untuk diperjual-belikan. Hal itu kata dia, lantaran menjadi tugas pokok para siswa kelas XII sebagai pembelajaran PKK di sekolah.

“Memproduksi hand sanitizer, tujuannya untuk penilaian mata pelajaran PKK di akhir semester enam ini,” katanya.

Ivan mengungkapkan, bahwa hasil produksi hand sanitizer para siswa itu pernah kelebihan stok hingga 100 pcs, dan tidak laku dijual. Oleh sebab itu, Ivan mempromosikan stok produk yang tak terjual itu dengan meng upload melalui media sosial sekolah.

“Setelah saya upload, akhirnya banyak permintaan dari guru-guru dan tenaga kependidikan SMKN 7,” ungkapnya.

Saat ini kata dia, para siswa terus memproduksi hand sanitizer untuk keluarga besar SMKN 7 Kota Bandung. Terlebih kata dia, maraknya penyebaran virus korona, produksi hand sanitizer sangat dibutuhkan.

“Kami jumlah guru ada sekira 200 orang, sementara jumlah siswa ada 1500 orang. Jadi, kami produksi sesuai kebutuhan sekolah dulu,” sebutnya.

Sayang, Ivan mengaku, akhir-akhi ini pihaknya sudah mengalami kesulitan untuk mendapatkan bahan-bahan kebutuhan produksi. Meski begitu, tidak membuat pihak sekolah mematok harga yang cukup mahal. Ivan menegaskan, bahwa hand sanitizer hasil produksi para siswa itu tetap dijual dengan harga normal.

“Karena niat awalnya memang membantu masyarakat, maka harga sesuai dengan tujuan awal. Jangan sampai membantu (menjual dengan harga tinggi) di atas penderitaan orang lain,” kata Ivan yang juga seorang apoteker ini.

Lebih jauh Ivan menjalaskan, cara membuat hand sanitizer itu, formula segala macam disesuaikan, diracik sendiri, sesuai dengan ketentuan. Bahan-bahan itu juga terdapat kandungan alkohol, daun sirih dan lainnya. Sementara hand sanitizer SMKN 7 itu diproduksi oleh Safa, sebuah produk kesehatan dalam negeri (PKD) yang telah mendapatkan izin dari Kemenkes RI.

Produk tersebut kata Ivan, dijual dengan beragam harga. Mulai Rp 15 ribu ukuran 60 ml, Rp 55 ribu untuk ukuran 250 ml, hingga dijual Rp 950 ribu untuk ukuran 5 liter.

“Ini tujuan awal bukan untuk komersi tetapi untuk membantu masyarakat,” pungkasnya. (tur)

Untuk Anda
Terbaru