banner

Isu Masalah Sampah Ditumpangi Geopolitik

darikita 13 April 2016
Selalu Jadi Kambing Hitam
vertical banner

darikita.com , SUMUR BANDUNG – Bicara sampah Kota Bandung, tidak lepas dari kontribusi yang tersebar secara teritorial di regional Jawa Barat. Sebab, Isu sampah selalu ditumpangi isu geopolitik. Pemikiran itu mudah dicerna warga. Namun, hati-hati jangan sampai ditunggangi orang-orang yang ingin memanfaatkan kondisi itu. Kadang, Kota Bandung selalu dijadikan ’kambing hitam’ dalam permasalahan sampah ini.

”Di ranah politik itu ada kepentingan tersebut. Termasuk isu sampah Kota Bandung sangat seksi. Yang diserang sudah pasti wali kota,” kata Direktur Utama PD Kebersihan Kota Bandung Deni Nurdiana kemarin (12/4).

Deni menjelaskan, mengedukasi masyarakat terkait kesadaran hidup bersih dalam buang sampah menjadi penting. Sebab, 85 persen persoalan sampah bersumber dari prilaku masyarakat.

Deni mencontohkan, prilaku buruk buang sampah ke sungai, meski itu oknum, tetap saja mencemari Sungai Citarum. Contoh lainnya, tegas Deni, 60 persen sampah di Citepus, bukan sampah rumah tangga. ”Ternyata asumsi saya itu tidak terlalu salah yang diributkan mencemari Sungai Citarum, sumbernya berasal dari pabrik-pabrik,” ujar dia.

Peristiwa kemarin, sambung Deni, penumpukan sampah di Cisirung, yang sempat jadi gunjingan membuat pemerintah saling tuding. Setelah diselusuri tidak semua benar berasal dari Kota Bandung.

”Pemerintah daerah bukan saatnya saling menyalahkan, tetapi sama-sama sadar. Itu maslah bersama yang harus diselesaikan,” ujar Deni.

Melalui komunikasi yang dibangun, ternyata masalah sampah perbatasan tak se-boomingyang diwartakan. Tetapi, ada provokator seolah masalah itu besar. Di lapangan tidak seperti itu. ”Penyelesaiannya tetap harus regional Jawa Barat. Karena anggaran provinsi untuk menangani sampah cukup besar,” tukas Deni.

Menyoal sampah di daerah beririsan yang kian menumpuk, dinilai Deni akibat wilayah perbatasan tak miliki TPS. ”Kalau tidak dibuang ke sungai atau dibakar, pasti dibuangnya ke TPS kita,” sebut dia.

Dari peristiwa itu, ujung-ujungnya penumpukan sampah di perbatasan yang menjadi titik potensial ada di Sungai Citepus dan Cijagra. Ini sumber sampah yang masuk ke Citarum.

”Saya tidak menyalahkan kabupaten, tapi mengklarifikasi tudingan yang menyebut pengelolaan sampah Kota Bandung jelek,” terang Deni.

Intinya, Kota Bandung bukan satu-satunya penyebab banjir di Kabupaten Bandung. Maka, guna menyelesaikan persoalan itu, PD Kebersihan, urai Deni, dalam waktu dekat akan membangun trap-trap di 14 anak sungai Citarum yang melintasi Kota Bandung.

”Bukan bendungan sampah tapi, trap sampah yang akan dipasang disepanjang sungai. Bendungan sampah itu jangka panjang,” tutur Deni.

Terkait titik-titik trap di sungai yang ada di Bandung, lanjut Deni, kemungkinan di hulu dan hilir.

Artinya, program tersebut guna menghindari sampah yang masuk dan keluar Bandung. ”Satu trap harganya bisa Rp 50-60 juta. Rencananya, dengan 14 anak sungai. Masing-masing anak sungai dua trap,” pungkas Deni. (edy/fik)

Untuk Anda
Terbaru