
TINGGAL PUING: Personel TNI bersama Petugas PMI dan Basarnas menggunakan alat berat melakukan evakuasi pesawat Hercules C-130 yang jatuh di Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara.
darikita.com, MARGAHAYU – Empat dari 141 korban meninggal karena kecelakaan pesawat Hercules C-130 di Medan, Selasa (30/6), adalah anggota Lanud Sulaiman. Mereka tengah menjalankan operasi untuk memperbaiki Ground Support Equiment (GSE) di lapang Lanud Tanjung Pinang.
Keempat anggota tersebut personel Satuan Pemeliharaan (Sathar) 71 Depo Pemeliharaan (Depohar) 70 Sulaiman, yang berlokasi di Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung. Terdiri atas, Lettu Rahmat Shamdany, kepala Unit Sistem Bengban Sathar 71; Serka Kaliman, Serka Sutrisno, dan Sertu Aang Subarya.
Danlanud Sulaiman Kolonel Pnb Olot Dwi Cahyono mengatakan, atas nama warga dan kesatuan mengucapkan belasungkawa atas musibah yang terjadi di Medan, dan menimpa empat personel Lanud Sulaiman.
Menurut dia, keberangkatan empat anggotanya dalam tugas bantuan pemeliharaan lapangan. Tapi ternyata nasib berkata lain. Keberangkatan itu menjadi tugas terakhir keempat anggotanya.
Di kawasan Lanud Sulaiman ada dua rumah duka yaitu keluarga Serka Kaliman dan Serka Sutrisno. Sedangkan dua rumah duka lainnya ada di kawasan Lanud Husein Sastranegara dan Cimindi Bandung.
Olot menjelaskan, pemulangan jenazah dari Medan akan dilakukan secepatnya. Namun, pihaknya belum mengetahui kepastian waktunya. Sebab, dari Medan keempat jenazah akan dibawa terlebih dahulu ke Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. ’’Secepatnya untuk pemulangan jenazah. Tergantung kondisi di sana (Medan). Kami juga belum tahu kondisi di sana. Mudah-mudahan secepatnya ada kepastian,’’ ujar dia kemarin (1/7).
Selain itu, kata Olot, setiap kali ada kecelakaan seperti yang terjadi di Medan, dari dinas sudah ada santunan. Baik bentuknya pembayaran klaim asuransi maupun bantuan lainnya untuk keluarga yang ditinggalkan. Termasuk untuk pendidikan anak-anaknya. ’’Kalau sudah datang jenazah korban akan diserahkan ke militer. Lalu diserahkan ke keluarga. Dan dari keluarga di serahkan ke dinas untuk dimakamkan,’’ paparnya.
Keluarga Terima Jenazah Kaliman
Kloter pertama pengembalian jenazah korban kecelakaan Hercules kepada keluarga berlangsung tadi malam. 15 korban dari prajurit dan seorang korban sipil tiba di lapangan udara (Lanud) Halim Perdana Kusuma, Jakarta menggunakan dua pesawat CN295 dan satu pesawat Boeing 737. Upacara penghormatan terhadap belasan korban tersebut dipimpin langsung Presiden Jokowi.
Dalam sambutannya, Jokowi meminta semua masyarakat Indonesia untuk mendoakan seluruh korban kecelakaan boeing. ’’Semoga semuanya diterima di sisi Allah, dan diampuni segala dosa-dosanya,’’ kata mantan Gubernur Jakarta tersebut.
Sementara itu, Kadispenau Dwi bagarmanto mengatakan, evakuasi terhadap korban sudah selesai dilakukan. Hanya saja, belum semua jenazah yang berhasil dievakuasi dapat diidentifikasi identitasnya. ’’Tinggal puing-puingnya saja yang belum dirapihkan sepenuhnya,’’ ujar Dwi.
Untuk mempermudah proses identifikasi, pihak TNI mengumpulkan semua korban di Rumah sakit Adam malik Medan. Dari semua korban dievakuasi, hanya 90 jenazah saja yang masih utuh. Sedangkan sisanya sudah terpotong-potong bentuk tubuhnya. Oleh karenanya, pihaknya mengutamakan prajurit dalam identifikasi. ’’Kalau prajurit masih agak mudah, bisa dilihat pakaian dinasnya, yang sipil ini sulit dikenali,’’ imbuhnya.
Upacaya penghormatan kemarin merupakan simbol. Pasalnya, pihak TNI memperbolehkan keluarga menjemput langsung korban di rumah sakit. Beberapa korban asal Medan sendiri sudah diambil keluarga. Kendati demikian, TNI memastikan akan memberikan santunan kepada semua korban.
Dwi juga mengklarifikasi, terkait kesimpangsiuran jumlah korban yang terjadi di masyarakat. Dia memastikan, total korban dalam insiden tersebut sejumlah 129 orang. Terdiri atas 12 kru pesawat, 110 anggota TNI dan keluarga, serta 7 orang warga yang tertimbun pesawat. Sementara terkait pemakaman, pihak TNI menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga.
Sementara terkait penyebab kecelakaan, TNI masih belum bisa memastikan penyebabnya. Hanya saja, dugaan terkuat saat ini adalah kerusakan mesin. Pasalnya, setelah take off dua menit, Pilot sandi meminta untuk return to base. ’’Pilot meminta landing itu kemungkinan dia tahu ada yang salah dari pesawat yang dikendarainya. ’’Untuk memastikan, TNI akan melanjutkan investigasi. Bahkan jika tidak ditemukan, TNI akan menghubungi pabrik secara langsung. Untuk menghindari peristiwa serupa, KSAU memutuskan untuk menghentikan penggunaan pesawat Hercules C-130.
Bangkitkan Industri Pertahanan
Presiden Joko Widodo telah meminta agar dilakukan investigasi atas insiden jatuhnya pesawat Hercules C130 di Medan, Selasa (30/6), lalu. Kemarin, presiden telah memerintahkan secara khusus kepada Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan untuk menelisik lebih dalam penyebab jatuhnya pesawat milik TNI AU tersebut.
Kemarin, menhan telah dipanggil secara khusus ke kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, untuk hal tersebut. ’’Perlu segera ada evaluasi menyeluruh terhadap kondisi alutsista (alat utama sistem persenjataan, Red) TNI,’’ kata Tim Komunikasi Presiden, Teten Masduki, di Jakarta, kemarin (1/7).
Dia menyatakan, evaluasi itu nantinya akan menjadi dasar untuk melakukan langkah-langkah perbaikan dan peremajaan alutsista TNI. Desain besarnya, alutsista TNI akan diarahkan ke kemandirian industri pertahanan. Hal itu penting agar Indonesia dapat sepenuhnya mengendalikan kesiapan operasional alutsistanya. ’’Selain itu, TNI harus pula memperkuat zero accident dalam penggunaan alutsista.
Usia pertemuan dengan presiden, Ryamizard memilih tidak membeber lebih jauh tentang langkah taktis yang bakal dilakukan dalam investigasi nantinya. ’’Kita tunggu dulu, nanti dulu itu,’’ elak Ryamizard.
Termasuk, saat disinggung keberadaan sejumlah warga sipil di dalam pesawat yang akhirnya turut menjadi korban, dia hanya menyatakan, kalau keberadaan warga sipil di dalam pesawat militer milik TNI AU, adalah hal biasa. Dia membandingkan dengan masyarakat yang juga bebas naik tank-tank milik TNI dalam sejumlah kesempatan. ’’Kalau mau ikut boleh saja. Dari dulu begitu. Nggak apa-apa dengan rakyat harus sama sama,’’ kata dia.
Lalu, bagaimana dengan kabar kalau masyarakat sipil itu juga ditarik sejumlah biaya? ’’Masak TNI ambil keuntungan, enggak lah,’’ katanya, sambil berlalu.
Sementara itu, Pengamat pertahanan Haryo Budi Rahmadi mengatakan, pemerintah perlu menghidupkan lagi industri alutsista lokal, terutama pengembangan pesawat jenis armada angkut. ’’Sebab kebutuhan terbesar kita ada disitu. Kemampuan kita untuk membuat sendiri juga baru sebatas itu,’’ ujarnya.
Dia mencontohkan saat akhir 90-an dimana Indonesia telah berhasil membuat sendiri pesawat sebagai alat angkut militer. Meski belum mampu membuat sekelas Hercules C-130, tapi saat itu Indonesia bisa memproduksi pesawat sekelas N-2130, CN-235 dan N-250. ’’Saat itu CN-235 kan sudah diproduksi versi militernya,’’ ujar pengajar pasca sarjana di Universitas Pertahanan itu.
Haryo yakin putra-putra terbaik Indonesia bisa melakukan hal serupa jika ada dorongan kuat dari pemerintah. Dia mencontohkan bagaimana Indonesia mampu memodifikasi Hercules C-130 yang jatuh kemarin sebagai pesawat yang memiliki fungsi airborne refueling(pengisi bahan bakar pesawat jet).
Saat ini ada dua Hercules C-130 yang berhasil dimodifikasi sebagai pengisi bahan bakar pesawat jet. Modifikasi keduanya dilakukan di dalam negeri. ’’Tapi ya itu, sebagus-bagusnya modifikasi dan maintenance, yang perlu diingat Hercules itu sudah terlalu tua. Penurunan kinerja pasti ada, itu yang tak bisa diabaikan,’’ katanya.
Haryo mengatakan, peremajaan alutsista memang harga mati. Pemerintah akan mengeluarkan biaya yang lebih besar jika peremajaan tak segera dilakukan. ’’Kita punyacost yang lebih besar kalau peremajaan diabaikan. Yakni, mendidik man behind the gun.Jangan sampai kita kembali kehilangan perwira-perwira terbaik karena faktor usia alutsista,’’ jelasnya.
Meski peremajaan mendesak, namun Haryo berharap pemerintah, khususunya Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) menjaga sinergi dan keseimbangan antara dinamika yang ada dan rencana jangka panjang yang dibuat.
Sejak 2009 Indonesia sebenarnya telah memiliki rencana jangka panjang Minimum Essential Force (MEF). ’’Rencana jangka panjang itu harus disinergikan dengan dinamika yang ada. Jangan sampai rencana jangka panjang itu tak relevan lagi dengan teknologi, ancaman, lingkungan geopolitik, geostrategi serta anggaran kita sendiri,’’ jelasnya.(far/dyn/gun/yul/hen)













