banner

Jangan Jual Seke Air

darikita 21 September 2015
Fajri Achmad NF. / Bandung Ekspres MELIMPAH SAAT KEMARAU: Warga turut memeriahkan gelaran hajat buruan perang cai di Kampung Cibiru Wetan, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Minggu (20/9). Hajat buruan perang cai merupakan bentuk rasa syukur warga atas keberlimpahan air sebagai kebutuhan utama manusia di masa masa krisis air di musim kemarau panjang ini.
vertical banner
Fajri Achmad NF. / Bandung Ekspres MELIMPAH SAAT KEMARAU: Warga turut memeriahkan gelaran hajat buruan perang cai di Kampung Cibiru Wetan, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Minggu (20/9). Hajat buruan perang cai merupakan bentuk rasa syukur warga atas keberlimpahan air sebagai kebutuhan utama manusia di masa masa krisis air di musim kemarau panjang ini.
Fajri Achmad NF. / Bandung Ekspres MELIMPAH SAAT KEMARAU: Warga turut memeriahkan gelaran hajat buruan perang cai di Kampung Cibiru Wetan, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Minggu (20/9). Hajat buruan perang cai merupakan bentuk rasa syukur warga atas keberlimpahan air sebagai kebutuhan utama manusia di masa masa krisis air di musim kemarau panjang ini.
Bentuk Syukuran Melimpahnya Sumber Air

darikita.com, CILEUNYI – Musim kemarau berkepanjangan, tidak membuat kawasan Bandung Timur, tepatnya di Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi Kampung Cibiru tonggoh RT 03 RW 07, Kabupaten Bandung tidak kesulitan air. Untuk mensyukuri kondisi tersebut, warga di Jalan Sindang Reret melakukan Hajat Buruan Perang Cai atau Pesta Perang Air yang dilakukan, kemarin (20/9).

Ketua Seni Reak Tibelat Bandung Enjang Diryati mengatakan, Desa Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi Kampung Cibiru tonggoh RT 03 RW 07 tidak pernah merasakan kesulitan air. Sebab, ada tiga sumber air atau yang biasa disebut seke tampak masih penuh dan melimpah.

Nah, untuk menyukuri itu, maka dibuatlah pergelaran tersebut. Kegiatan merupakan langkah sosialisasi pada generasi muda untuk tetap menjaga lingkungan dan memeliharannya. Terutama sumber air bersih.

”Kita upayakan generasi muda bisa menjaga tanah dan air di kawasan tempat tinggal mereka melalui sebuah tradisi dan kebudayaan,” kata dia kepada Bandung Ekspres, di Jalan Sindang Reret, kemarin.

Sebelum melakukan perang air, para sesepuh di kawasan tersebut melakukan beberapa ritual, berupa doa dan menyediakan berbagai rempah- rempah. Ratusan warga yang mayoritas diikuti oleh remaja dan anak anak dilibatkan aktif dalam tradisi ini.

”Kita ingin menunjukan parda mereka (generasi muda) bahwa dengan cara kita menjaga, tetap menanam pohon dan tidak merusak sumber daya yang alami mereka tidak akan kesulitan untuk hidup dan mendapatkan air. Sebab, air merupakan sektor utama dari adanya sebuah kehidupan,” jelas dia.

Perang air tersebut dimulai dengan tradisi saling lempar bola air yang sudah dipersiapkan di dalam plastik. Setelah itu, dalam perayaan tersebut, air yang melimpah disiramkan pada para remaja baik pemuda dan pemudi dengan diiringi gamelan dan terompet tradisional yang didengungkan dengan suara yang nyaring.

Sementara itu, sesepuh dan ketua pelaksana ritual dan tradisi Hajat Buruan Perang Cai Abah Nanu mengatakan, acara ini merupakan tradisi yang sudah dilakukan selama satu tahun sekali. Hal ini merupakan sebuah ritual wajib yang harus dilestarikan sebagai bentuk dan langkah kepedulian masyarakat terhadap pelestarian tradisi dan jaga alam.

”Kita lakukan ini pada setiap kemarau. Sebab, ini bentuk syukur kita karena air dan tanah disinu masih memberikan kehidupan melalui berlimpahnya air,” kata dia.

Selama ini berbagai kawasan di Bandung sudah mengalami krisis air, baik itu karena adanya penjualan seke kepada distributor air minum ataupun izin pengambil alihan sumber air oleh pengusaha dan pengembang properti untuk dijadikan sumber air utama di dalam gedungnya.

”Jangan sampai seke ini diambil oleh orang asing. Sebab, sumber air ini tidak akan ada habisnya. Ini alami dan harus dijaga bersama,” tegasnya. (fie/rie)

Untuk Anda
Terbaru