
darikita.com, BALAPAN Grand Prix Hungaria pekan lalu sejatinya jadi ajang ujian bagi pembalap Ferrari Kimi Raikkonen. Dia dituntut mampu membuktikan bahwa dirinya pantas dipertahankan Ferrari untuk musim depan. Sayang, nasib sial kembali menimpanya lantaran gagal finis di balapan penuh drama tersebut.
Efeknya melebar. Alih-alih kabar positif yang menerpa Raikkonen, kabar untuk segera mendepaknya semakin kencang.
Meski sudah berjuang mati-matian, Raikkonen hanya merengkuh empat poin dari tiga seri terakhir. Pendapatan poinnya dibandingkan dengan rekan setimnya Sebastian Vettel juga timpang, selisihnya kini 84 poin.
Berembus kabar Ferrari bakal memutuskan nasib Raikkonen akhir Juli ini. Kabar tersebut sudah dipanaskan dengan artikel media Italia yang mengungkapkan Ferrari telah menandatangani kesepakatan awal dengan pembalap Williams-Mercedes Valtteri Bottas senilai USD 13 juta (Rp 175 miliar) untuk mengisi kursi balap Raikkonen musim depan.
Sama seperti hengkangnya Sebastian Vettel ke Ferrari musim lalu, dilorotnya nama Raikkonen dari tim Kuda Jingkrak bakal menjadi kunci terjadinya transfer besar-besaran di kalangan tim kontestan. Silly season alias perpindahan pembalap pun bergantung pada nama pembalap berjuluk Ice Man itu.
Raikkonen pernah secara terang-terangan menyatakan tidak akan pindah ke tim F1 lainnya andaikata Ferrari mendepaknya. Dengan begitu, kini Williams harus berancang-ancang mencari pengganti Bottas.
Nama yang santer digadang menjadi penggantinya adalah Felipe Nasr (Sauber-Ferrari) dengan dukungan sponsor besar di belakangnya. Performanya di Sauber musim debutnya tahun ini juga impresif. Tapi Sauber telah memastikan tetap mempertahankan Nasr tahun depan untuk bertandem dengan Marcus Ericsson.
Kontrak sudah diteken dan keputusan tersebut adalah pertama kalinya Sauber mempertahankan lineup yang sama dalam dua musim beruntun sejak 2012. Mereka menjadi tim perdana yang mengumumkan kepastian jajaran pembalapnya musim depan.
Dengan keputusan itu harus ada nama lain. Pilihannya adalah Nico Hulkenberg (Lotus-Mercedes). Alasannya, pembalap Jerman itu sudah pernah membalap untuk Williams di musim debutnya pada 2010. Dua musim sebelumnya juga sudah menjabat sebagai pembalap uji bagi Skuad Woking tersebut.
Tapi Williams adalah tim dengan kultur juara yang tak terbiasa bermain-main dengan line up “coba-coba”. Apalagi jika tujuannya menjaga kelanjutan kerjasama dengan sponsor besar seperti Martini dan Unilever. Karena itu nama Jenson Button (McLaren-Honda) juga masuk dalam pantauan radar Williams.
Nah, jika benar McLaren ditinggalkan Button, satu kursi kosong lagi harus diisi. Pilihan paling mungkin adalah Kevin Magnussen. Masih teringat jelas akhir musim lalu ketika McLaren begitu alot memilin antara Button dan Magnussen untuk bertarung di musim ini setelah Honda kembali menjadi pemasok mesinnya.
Gambaran ini bisa dikonfirmasi paling lambat September nanti. Momen di mana secara tradisional tim-tim Formula 1 mengumumkan lineup pembalapnya tahun depan. Ferrari pun terlihat sangat hati-hati menyikapi kabar-kabar kabur tersebut. ”Jeda liburan waktunya kita berenang, mendaki gunung, atau berenang. Bukan memutuskan sesuatu,” tegas Team Principal Ferrari Maurizio Arrivabene. (cak/ady/mio)













