banner

Masih Trauma Dengar Sirene Ambulans

darikita 12 Oktober 2018
ABE BANDOE/FAJAR RIANG: Sejumlah anak bermain bersama di tenda pengungsian di Desa Lolitasiburi, Kecamatan Banawa, Pantai Timur, Kabupaten Donggala, Rabu, 10 Oktober. Jumlah pengungsi di daerah ini mencapai 2000an jiwa.
vertical banner

Beradaptasi di lingkungan yang baru diharapkan bisa menghilangkan trauma yang dialami Siti Syalsa Triwinarsih. Dia merupakan salah seorang pelajar yang mengungsi ke Makasar dari Palu, pasca gempa dan tsunami.

ANDI SYAEFUL, Makassar

PERISTIWA Jumat petang, 28 September 2018, tak akan pernah dilupakan Siti. Gempa bumi bermagnitudo 7,2 SR disertai tsunami yang mengguncang Palu dan Donggala, membuatnya harus menyingkir dari kota yang dijuluki Kota Kaledo.

Anak kedua pasangan Murtalak dan Nurhaerana ini, mencoba menjalani hidup baru di Makassar. Sekolah di tempat baru, serta bersosialisasi dengan teman dan orang baru.

Perempuan 15 tahun itu, ikut pelajaran Rabu siang,10 Oktober di SMA Negeri 17 Makassar. Dia tampak tak cunggung lagi berbincang dengan teman-teman kelasnya. Sebelum mengikuti pelajaran, dia berbagi cerita tentang kondisi kota kelahirannya hingga bisa sampai di Makassar.

Katanya, pasca gempa, kondisi di Palu saat ini sudah tidak memungkinkan. Baik untuk belajar atau aktivitas sehari-hari. Makanya pekan lalu, dia serta kedua orang tua serta saudaranya hijrah sementara ke Makassar.

”Sekolah saya di SMAN 3 Palu, sudah tidak bisa dipakai. Bangunannya rusak, tidak bisa lagi untuk belajar,” beber siswa kelas XII IPA I di SMAN 17 Makassar ini.

Beruntung saat tiba di Makassar pekan lalu, sudah ada keluarganya yang menunggu. Dia menumpang pesawat Hercules, bersama para pengungsi yang lain dari Palu.

Dia ingat betul masa-masa di pengungsian bersama keluarganya. Sesekali dia menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya saat terbang menggunakan Hercules.

Tiba di Makassar pun demikian. Semua tak langsung bisa bersosialisasi. Goncangan gempa yang sangat dahsyat membuat Siti sangat trauma. Ketika mendengar suara keras, ingatannya langsung pada peristiwa yang menewaskan ribuan orang itu.

Saat gempa terjadi, dia berada di luar rumah. Rumahnya hancur, mereka juga takut masuk ke dalam bangunan lantaran kondisi gempa yang terus berulang.

”Trauma seperti itu yang kami alami. Pokoknya suara besar, seperti mobil melintas. Itu saya langsung melotot,” bebernya.

Hampir dua pekan tak bersekolah, membuat Siti bingung. Harus kejar mata pelajaran, sementara saat ini mereka tak mungkin bisa kembali ke Palu.

Beruntung pemerintah memberinya kemudahan, bisa sekolah di Makassar. Sti akhirnya punya kesempatan sekolah, bebas masuk SMA atau SMK. SMAN 17 Makassar pun dipilihnya. ”Kebetulan rumah nenek di tempat saya tinggal tak jauh dari sekolah. Di Jalan Korban 40 ribu Jiwa,” ucapnya.

Siti sempat agak canggung. Ragu saat hendak masuk sekolah, lantaran harus sosialisasi dengan teman-teman baru. Meski begitu, keinginan belajarnya lebih kuat, sehingga semua rasa cagunggung itu hilang.

Sejak Selasa, 9 Oktober, dia mulai ikut belajar di SMAN 17 Makassar. Dia tak mendapat kesulitan untuk masuk sekolah. Hanya melapor di sekolah, kemudian dipilihkan kelas sesuai jurusan dan jenjang sekolah awal.

Saat awal masuk, rasa trauma itu masih ada. Apalagi saat berada dalam kelas, dia sangat trauma melihat bangunan yang roboh akibat guncangan. Tak hanya itu, suara sirene ambulans juga membuat Siti sangat trauma.

”Awalnya juga canggung, sama teman-teman. Ternyata baik semua. Bahkan mereka minta diceritakan soal kisah gempa Palu,” jelasnya.

Keramahan teman-teman sekolahnya perlahan mengalihkan ingatannya dari kejadian nahas. Meski begitu dia tak ingin tinggal lama di Makassar. November mendatang, dia berencana kembali ke Palu.

Siswa lainnya di SMAN 17 Makassar yakni Andi Nurabrar. Dia juga pindahan dari SMA Al Azhar Palu. Dia meninggalkan Palu karena pasca gempa. Kawasan permukimannya yang paling terdampak.

”Rumah saya di Petobo. Lumpur dan tanah yang menggulung itu persis di belakang rumah. Untung saya dan keluarga terhindar,” tambahnya.

Kini anak kedua dari pasangan Andi Dala dan Kastono itu ditempatkan di kelas XI IPA 5 SMAN 17 Makassar. (*)

Untuk Anda
Terbaru