
darikita.com, MARGAASIH – H. Dadang Rusdiana SE MSi selaku anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Hanura Daerah pemilihan (Dapil) II Kabupaten Bandung-Kabupaten Bandung Barat, gencar melakukan kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan. Hal ini dilakukan untuk menggugah kembali perilaku manusia yang sudah melupakan nilai-nilai pancasila. Selain itu, dia ingin memintarkan masyarakat, melalui sentuhan kata yang menyejukan hati yang didasari Ilmu, Iman dan Amal. Pasalnya, di masa era reformasi lalu empat pilar kebangsaaan ini seakan tak digubris.
’’Kita akan terus berupaya supaya masyarakat memahami arti dan nilai empat pilar kebangsaan, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Agar tetap saling hormat menghormati, saling mengasihi, menjaga untuk keutuhan kesatuan dan persatuan yang terus ditanamkan,’’ kata pria yang akrab disapa Darus ini di Aula Kecamatan Margaasih, kemarin (14/6).
Menurut Darus, sosialisasi yang dilakukan di Kecamatan Margaasih ini guna menanamkan pemahaman nilai-nilai pancasila di tengah-tengah masyarakat. Sebab, masyarakat saat ini sudah multi etnis pengertiannya. Artinya, sudah berbagai ragam keyakinan, bermacam keparcayaan. ’’Masyarakat sudah bercirikan perkotaan, sehingga masalah yang dihadapi itu sudah luar biasa,’’ ucapnya.
Kegiatan yang dihadiri Kader PKK, Karang Taruna, mahasiswa, Muspika Kecamatan Margaasih, Kepala Desa, tokoh agama, juga tokoh masyarakat sekitar.
Sehingga pada dasarnya, sambung Darus, masalah daerah perkotaan salah satunya adalah memudarnya solidaritas kesetiakawanan. Kemudian, nilai-nilai toleransi terkikis, sehingga diperlukan sebuah pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana pancasila sebagai idiologi dasar negara, dijabarkan di tengah-tengah masyarakat.
’’Di samping itu, masyarakat memahami hubbungan antar negara, sebagaimana diatur oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia bahwa negara kita negara hukum,’’ ujarnya.
Sehingga, sambung dia, segala sesuatu harus patuh dan taat terhadap hukum. Salah satu di antaranya tidak boleh main hakim sendiri, menghormati peraturan perundang-undangan, dan disiplin dalam kehidupannya.
Adapun konteks menjaga NKRI adalah harga mati. Dia menegaskan, harus dipahami bahwa masyarakat adalah berada dalam koridor kesatuan dalam segala hal. Termasuk, perencanaan pembangnunan harus merujuk kepada Rencana Pembangunan Jangka Nasional (RPJN). Sehingga, yang dilakukan oleh Margaasih ini, ucap Darus, tidak terlepas dari RPJN Kabupaten Bandung, RPJN Propinsi, dan selanjutnya RPJN Nasilonal.
Darus menerangkan, pihaknya pun telah melakukan diskusi panjang dengan peserta rapat. Dalam kontek menumbuh kembangkan empat pilar kebangsaan, sosialisasi dimulai dari anak usia dini. ’’Target kita ke depan, kita akan coba melibatkan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Membuat sosialisasi untuk dihadiri oleh anak-anak kecil, sehingga pemahaman nilai-nilai Pancasila dipahami dari awal,’’ ucap pria ramah ini.
Disinggung soal penghapusan nilai-nilai sejarah, Darus mengaku, memang saat ini masyarakat mulai tidak menghormati warisan-warisan para leluhur, yakni warisan nasional. Padahal itu, harus dijaga dan dipelihara. Sehingga, ketika berbiara sejarah maka di situ ada nilai-nilai leluhur yang disimpulkan seperti kegotong royongan. Seperti yang ada di Kabupaten Bandung, yaitu Sabilulungan.
Dikatakan Darus, Margaasih memiliki peninggalan sejarah, seperti Sumur Bandung dan makam Mahmud yang menjadi garapan wisata sejarah supaya dilestarikan. ’’Kemungkinan menjadi salah satu pilar agar masyarakat terus memelihara nilai-nilai itu,’’ katanya.
Ditegaskan dia, pranata budaya harus melibatkan sekolah, karena sangat berhubungan dengan pendidikan, politik, dan keluarga. ’’Nah, salah satu ragam budaya itu adalah pendidikan juga bagaimana guru-guru dalam kurikulum, memberikan ruang yang cukup untuk pancasila,’’ ungkapnya.
Menurut Darus, empat pilar kebangsaan ini akan dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, tapi masih dalam proses. ’’Kita kan punya repolusi mental. Sekarang ini sedang didengungkan oleh Pemerintah Jokowi, nilai pancasila ini kita dorong dalam konteks revolusi mental untuk dimasukkan ke dalam kurikulum,’’ tuturnya. (aku/sct/tam)













