JAKARTA – Pertemuan tandingan saat kubu petahana merapatkan barisan, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dipimpin Prabowo Subianto melakukan pertemuan serupa dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Pertemuan berlangsung hampir kurang dua jam tersebut membahas mengenai adanya kemungkinan terbentuknya koalisi hingga perhatian terhadap nilai tukar rupiah yang semakin melemah dalam beberapa waktu terakhir ini.
”Kami membahas dengan serius perkembangan situasi nasional empat tahun ini, utamanya yang dihadapi dan dialami oleh rakyat kita meliputi pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan, pengurangan kemiskinan, keseimbangan pembangunan manusia dengan pembangunan infrastruktur, serta situasi moneter hingga melemahnya nilai tukar rupiah dan kondisi fiskal,” kata SBY dalam jumpa pers di Kediamannya, di Kawasan Mega Kuningan Jakarta Selatan, Selasa (24/7) malam.
SBY mengatakan soal pembahasan pertama mengenai perkembangan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Menurutnya paling penting soal kesejahteraan rakyat adalah penghasilan dan daya beli oleh golongan kurang mampu dan miskin. “Ada 40 persen kalangan bawah yang jumlahnya sekitar 100 juta orang. itu menjadi persoalan kami karena ada persoalan disitu,”kata SBY.
Kemudian kedua soal permasalahan hukum dan keadilan bagaimana ia mengungkapkan harapan agar hukum tidak menjadi sebuah alat politik. Karena menurutnya pemberantasan hukum seringkali tajam kebawah dan tumpul keatas serta tebang pilih.
Selanjutnya ketiga, terkait bidang politik dan demokrasi, SBY berharap konstitusi dan Undang-Undang tata kenegaraan di implementasikan secara benar dalam kehidupan bernegara.
”Termasuk independensi masing-masing lembaga negara serta netralitas aparat. Kami juga mendukung adanya penertiban hoaks,” cetusnya.
SBY dan Prabowo yang hadir dengan dress code batik yang hampir sama bersepakat atas pentingnya menjaga persatuan dan kerukunan sosial serta sikap anti radikalisme. Sebab persatuan bangsa dan sosial penting untuk dijaga bersama, juga kebhinekaan dan toleransi.
”Kita sepakat dan sependapat, tidak boleh membiarkan ekstrimisme dan radikalisme berkembang dalam dalih apapun. Posisi kami ini sangat jelas berpedoman dan selalu menjalankan pancasila dan UUD 45,”lanjutnya.
Setelah memaparkan kesepakatan diantara keduanya, SBY cobamenjelaskan pertemuannya bahwa Partai Demokrat mengisyaratkan tidak akan berkoalisi dengan Presiden Joko Widodo dalam Pilpres 2019 mendatang. Alasan tidak ingin berkoalisi karena banyaknya rntangan pada saat menuju kesepahaman
”Saya menjalin komunikasi dengan Pak Jokowi hampir setahun untuk juga menjajaki kemungkinan kebersamaan dalam pemerintahan. Pak Jokowi juga berharap Demokrat bisa di dalam pemerintahan.Tetapi saya sadari banyak sekali rintangan dan hambatan menuju koalisi itu,” ujar SBY.
Namun secara terbuka Mantan Presiden ke enam tersebut mengatakan bahwa jalan koalisi Demokrat dengan Gerindra terbuka lebar karena syarat koalisi tersedia. Karena menurutnyakoalisi dapat terbangun jika ada iklim yang baik, ada kesediaan berkoalisi, ada kepercayaan bersama, dan saling menghormati.
”Saya harus katakan jalan untuk membangun koalisi dengan Gerindra terbuka lebar. Apalagi setelah kami berdua sepakat atas apa yang menjadi persoalan bangsa lima tahun kedepan, sepakat atas apa yang diharapkan rakyat hingga tingkat akar rumput,”katanya.
”Saya dan Pak Prabowo juga punya pandangan sama bahwa syarat koalisi sebetulnya tersedia. Koalisi efektif dan kokoh harus berangkat dari niat baik ‘good will’, harus saling menghormati mutual respect, saling percaya ‘mutual trust’ dan harus memiliki chemistry yang baik. Kalau syarat ini terpenuhi, disamping ada kesamaan visi-misi dan pemahaman tentang persoalan rakyat, saya yakin jalan terbuka dengan baik,”sambungnya.
Di sisi lain, Prabowo yang diberikan tidak segan-segan menyatakan kegembiraanya yang begitu tinggi dengan suasana pertemuan yang berlangsung selama dua jam, karena ada “chemistry” yang bagus dengan SBY. Menurutnya, tanpa ditanya pun para awak media sudah pasti mengerti pertanda itu.
”Tanpa ditanya kalian sudah mengerti lah,” kata Prabowo kepada wartawan.
Prabowo pun merespon soal pembicaraan SBY yang tidak menyoalkan nama capres atau cawapres yang akan diusung dalam pertemuan tersebut. Demokrat kata SBY tidak mematok sosok cawapres sebagai harga mati, meskipun wajar apabila setiap partai menginginkan kadernya menjadi capres atau cawapres.
Hasil pertemuan keduanya kata SBY juga akan disampaikan kepada jajaran Majelis Tinggi Partai Demokrat sebagai forum tertinggi partainya yang akan mengambil keputusan untukberkoalisi antara Demokrat dengan Gerindra.
“Terus terang saja saya harus katakan, kriteria yang saya butuhkan adalah yang saya yakini orang yang capable, bisa berkomunikasi baik dengan generasi muda, karena pemilih mayoritas usia 40 tahun kebawah. Kalau umpamanya dalam pertemuan mendatang nama AHY muncul saya harus katakan ‘why not’,” kata Prabowo saat diberikan kesempatan berbicara.
Mantan danjen Kopasus secara jujur dan gamblang menyebut nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bahwa tidak menutup kemungkinan nama tersebut menjadi pendampingnya sebagai cawapres di pilpres 2019 mendatang. Namun menururnya hal tersebut tetap akan berdasarkan kesepakatan yang diputuskan dalam menjalin koalisi antara sejumlah partai politik.
“Tim kecil Gerindra akan bekerja dengan tim kecil dari partai Demokrat. Saya juga akan bertemu dengan pimpinaan PKS, PAN, dan sejumlah partai politik yang lain,”ucap Prabowo.
Tak sampai disitu Prabowo pun sempat bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini sedang terancam. Namun alasan terancam disebabkan faktor apanya, Prabowo juga tak menjelaskan secara detail.
“Sekarang kita risau. Kita risau karena BUMN menurut saya adalah pertahanan terakhir ekonomi Republik Indonesia. Jadi kalau BUMN terancam, negara kita terancam. ekonomi makin sulit,” kata Prabowo.
Selanjutnya Prabowo memuji kepemimpinan era SBY ketika menjabat sebagai presiden selama dua periode. Menurut Prabowo, BUMN di zaman SBY BUMN dalam keadaan baik. Berbeda dengan kondisi BUMN sekarang ini di masa Pemerintahan Jokowi – Jusuf Kalla.
“Pak SBY punya pengalaman yang sangat besar, 10 tahun beliau memimpin dengan tenang, yang jelas waktu beliau memimpin, BUMN-BUMN dalam keadaan baik,” ujarnya.
Oleh karena itu, Mantan Danjen Kopassus itu menyampaikan, dalam kondisi bangsa yang susah seperti ini, para tokoh bangsa harus bersatu.
”Saya kira dalam keadaan negara susah, saya kira semua tokoh bangsa harus bersatu. itu pilihan terbaik,”pungkasnya. (ZEN/FIN/IGN)













