Oded Ajak Cegah Kanker
YKI Harus Jadi Wadah Tranformasi dan Sosialisasi
darikita.com, Kanker dianggap sebagai salah satu penyakit mematikan nomor satu. Untuk itu, masyarakat harus sadar pentingnya menjaga diri adar terhindar dari penyakit ini. Namun, keterbatasan pengetahuan warga membuat penyakit ini sulit dicegah. Maka. Lahirnya Yayasan Kanker Indonesia (YKI) cabang Kota Bandung dianggap wadah bagi mayarakat memperdalam apa penyakit kanker dan bagaimana penanggulanya.
Wakil Wali Kota Bandung Oded M Danial meminta YKI mampu melakukan sebuah program transformasi dan sosialisasi kepada warga Bandung, tentang pentingnya informasi dalam mendeteksi dini bahaya kanker. ”Bagaimana kita memberikan informasi kepada warga Bandung, tentu diawali dengan kita mulai memberi perhatian. Oleh karena itu, YKI harus hadir sebagai bentuk kepeduliaan kepada warga Kota Bandung,” kata Oded usai mengukuhkan pengurus baru YKI Cabang Kota Bandung masa bakti 2016-2021 di Balaikota kemarin (10/2).
Oded mengemukakan, YKI harus bisa meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya penyakit kanker sebagai langkah deteksi dini mencegah dan menekan terjadinya penyakit tersebut. ”YKI juga ke depan harus mampu menciptakan wahana untuk melahirkan generasi-generasi muda yang memiliki semangat dan kepedulian terkait kanker di Indonesia khususnya Kota Bandung,” harapnya.
Selanjutnya Oded mengatakan, upaya pencegahan dan kampanye terkait masalah kanker di Indonesia termasuk di daerah tidak mungkin dilakukan sendiri oleh YKI. ”Oleh karena itu, perlu adanya kolaborasi dan kerjasama antara setiap komponen masyarakat, termasuk dengan dinas terkait. Kita harus berkolaborasi dengan seluruh pihak termasuk TNI, Polri, dan para pengusaha,” pungkasnya.
Pada kesempatan itu Siti Muntamah Oded Danial dikukuhkan sebagai ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Kota Bandung masa bakti 2016-2021.
Sementara itu, berdasarkan data World Health Organization (WHO), terjadi peningkatan rata-rata 100 ribu penderita baru setiap tahunnya. WHO juga mencatat, jumlah penderita kanker di dunia terus bertambah tujuh juta orang setiap tahunnya. Di mana dua per tiga di antaranya berada di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia.
Sylvia Harry Poernomo, Ketua Yayasan Kanker Indonesia mengatakan, angka ini harus dikendalikan, jika tidak diperkirakan 26 juta orang akan menderita kanker dan 17 juta meninggal karena kanker pada tahun 2030. ”Ironisnya, kejadian ini akan terjadi lebih cepat di negara miskin dan berkembang,” ungkap Sylvia.
Khusus di Indonesia, kata Sylvia, tiap tahun diperkirakan terdapat 100 penderita baru per 100 ribu. ribu penduduk. lni berarti dari jumlah 237 juta penduduk, ada sekitar 237.000 penderita kanker baru setiap tahunnya.
Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2007, sekitar 5,7 persen kematian semua umur disebabkan oleh kanker ganas. Bahkan mantan Kabalitbang Kemkes, Tjandra Yoga juga pernah mengungkapkan data, di Indonesia prevalensi tumor/kanker adalah 4,3 per 1000 penduduk. Kanker merupakan penyebab kematian nomor 7 setelah stroke, TB, hipertensi, cedera, perinatal, dan DM (Riskesdas, 2007).
Sedangkan berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2007, kanker payudara menempati urutan pertama pada pasien rawat inap di seluruh RS di Indonesia, (16,85 persen, disusul kanker leher rahim (11,78 persen).
Faktor risiko yang menyebabkan tingginya kejadian kanker di Indonesia yaitu prevalensi merokok 23,7 persen, obesitas umum penduduk berusia 2 15 tahun pada laki-laki13,9 persen dan pada perempuan 23,8 persen. (rmol/bbs/fik)













