banner

Passion, Menggerakan Hati Seorang Guru

darikita 26 Juli 2018
Bambang Soegiharto Guru SMP Negeri 51 Bandung
vertical banner

SEORANG guru ditanya ‘hal apakah yang paling menyenangkan dirinya?’ Guru menjawab bukan uang banyak karena sudah tersertifikasi. Juga bukan dari applaus panjang dari siswanya. Juga bukan saat dipuji, disanjung, digemari, atau saat ditakuti siswanya. Seorang guru sangat bangga kalau muridnya paham dengan apa yang dia ajarkan. Dia merasa sangat puas manakala muridnya berhasil meraih cita-citanya dan bangga jika mampu menjelaskan hal yang sulit menjadi mudah.

Seringkali kita melihat seseorang melakukan sesuatu hal dengan penuh semangat, senang dan antusias. Terkadang, bahkan sampai tidak mengenal waktu dan lelah karena enjoy-nya dalam mengerjakan sesuatu hal tersebut. Energi yang dikeluarkan dapat optimal sesuai dengan kemampuannya. Namun sebaliknya, kita juga sering melihat seseorang secara ogah-ogahan, setengah hati, kurang semangat, ada keterpaksaan karena melakukannya hanya sebagai kewajiban saja, tanpa menikmati pekerjaannya tersebut. Hasil pekerjaan yang dicapai pun standar-standar saja. Fenomena ini sering kita jumpai, di lingkungan pekerjaan, perusahaan, instansi-instansi maupun dunia pendidikan.

Berbicara mengenai pendidikan, pasti tidak lepas dari peran seorang guru. Guru adalah sebuah profesi yang sangat mulia. Dari seorang guru lahirlah orang-orang hebat yang awalnya tidak mengerti apa-apa menjadi mengerti. Guru melahirkan dokter, tentara, polisi, presiden dan banyak lagi orang hebat yang lahir dari seorang guru. Sebagai pengajar, guru bertugas menyampaikan semua materi agar dimengerti dan dipahami oleh anak didiknya. Hanya sebatas itukah tugas seorang guru?

Tugas guru bukan hanya mengajarkan berhitung, menulis dan membaca. Lebih dari itu, tugas guru yang tidak kalah penting adalah mendidik. Mendidik sopan santun, bersikap baik, bertanggung jawab dan jujur, dan yang paling penting, guru berkewajiban memotivasi anak didiknya dalam berbagai hal yang positif.

Kenyataannya, kita sering jumpai sosok guru yang mengajar dengan kurang antusias dan tanpa semangat serta tidak energik. Potensi dan skill keguruannya nampak tidak optimal. Profesi seorang guru dijalankan hanya sebagai rutinitas dan terkesan pilihan profesi sebagai guru hanya keterpaksaan, pilihan terakhir karena tidak ada kerjaan lain. Tetapi, banyak pula guru yang kita jumpai sangat energik, dengan etos kerja yang bagus, kreatif dan inovatif dalam menciptakan suasana kelas yang menyenangkan sehingga anak didik tidak merasa bosan dan antusias dalam belajar.

Sebagian besar waktu, tenaga dan ide-ide seorang guru dituangkan untuk kemajuan anak didiknya. Dia rela mengorbankan waktunya untuk merenung dan mendapatkan ide-ide brilian untuk menciptakan strategi mengajar yang dapat membuat anak didiknya senang.  Mengajar bukan sekedar rutinitas pekerjaan, tetapi suatu panggilan hati atau panggilan jiwa yang secara emosional, kita benar-benar ikhlas dan senang untuk melakukannya. Kondisi inilah yang disebut dengan passion.

Passion bisa diartikan sebagai panggilan jiwa atau panggilan hati. Passion dapat juga dikatakan sebagai sebuah perasaan atau emosi terhadap suatu hal yang membuat seseorang sangat berantusias dan tidak pernah bosan dalam melakukannya sehingga melakukan hal secara ikhlas dan sukarela. Passion merupakan motivasi dalam bekerja. Ketika seseorang memiliki passion dalam pekerjaannya, mereka cenderung kurang peduli terhadap perilakunya ketika sedang bekerja, untuk menghasilkan lebih banyak hasil dan lebih banyak kepuasan dari pekerjaannya itu.

Setiap hari, ratusan ribu bahkan jutaan guru terbangun dari tempat tidurnya untuk melakukan beragai aktivitas rutin mereka. Pertanyaannya, apakah yang menggerakkan hati guru tersebut? yaitu passion. Menjadi seorang guru adalah tugas yang sangat mulia. Alangkah indahnya proses belajar mengajar bila guru sebagai motivator dalam belajar dapat benar-benar enjoy untuk melakukan pengajaran kepada anak didiknya. Keberhasilan anak didik merupakan keberhasilan guru sebagai pendidiknya. Seorang guru dapat dikatakan sukses menjadi guru bila memiliki kebahagiaan sesungguhnya, yaitu berupa kepuasan batin bahwa dia berhasil mencetak para generasi bangsa agar tumbuh cerdas dan berakhlak mulia.

Passion menjadi seorang guru, berarti dia benar-benar menyukai dan tidak merasa terbebani melakukan hal apapun yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Guru memiliki prinsip ingin membuat anak didiknya berkembang, maju dan berhasil. Rela dari hari ke hari, waktu ke waktu, memikirkan, merenungkan ide-ide kreatif dan brilian apa yang dapat membuat anak didiknya berhasil hingga menggapai harapan dan cita-cita mereka.

Seorang guru tidak mengukur segalanya hanya dari uang belaka. Passion yang dimiliki karena dia memiliki perasaan secara emosional dari hati yang paling dalam bahwa dia benar-benar mencintai anak didiknya. Dia juga berdedikasi tinggi atas perannya sebagai seorang guru, kreatif dan inovatif, pembelajar sejati, sabar dan peduli. Tantangan dan rintangan apapun tidak akan  mengendorkan semangat yang telah tertanam. Semangat besar terhadap tantangan dan rintangan yang dia hadapi, bahkan justru membuat dia semakin tertantang untuk menaklukkannya. Kepuasan dari pekerjaannya sebagai seorang guru didasari oleh keberhasilannya dalam memberikan nilai manfaat bagi sesama dan diri sendiri.

Apa yang menjadi passion bagi seorang guru, belum tentu menjadi passion bagi guru yang lain meskipun sama-sama mengerjakan profesi sebagai guru. Setelah mulai terbuka makna dari passion, marilah mulai menikmati hidup dengan menjalani pekerjaan yang kita cintai. Sungguh tindakan yang sia-sia bila kita bertahun-tahun menjalankan suatu pekerjaan yang justru menyiksa karena kita tidak senang dan tidak menyukainya. Apabila kita bekerja sesuai dengan passion, berarti kita tahu kekuatan pada diri kita, dan pada hakikatnya kita tidak sedang bekerja melainkan sedang menjalankan hobi.***

Untuk Anda
Terbaru