banner

Pihak Sekolah Jalankan Kebiasaan Tahunan

darikita 7 Agustus 2015
PAKSI SANDANG PRABOWO/jpphoto MOS RELIGI: Sejak Masa Orientasi Sekolah (MOS) dalam perloncoan sudah dilarang dari Diknas dalam tahun ini. Hal tersebut di lakukan secara positif murid-murid baru di SMA Negeri 1 Balikpapan. Mereka lebih banyak melakukan ibadah seperti mengaji yang di gelar di sekolah tersebut, Senin (14/7) kemarin.
vertical banner
PAKSI SANDANG PRABOWO/jpphoto MOS RELIGI: Sejak Masa Orientasi Sekolah (MOS) dalam perloncoan sudah dilarang dari Diknas dalam tahun ini. Hal tersebut di lakukan secara positif murid-murid baru di SMA Negeri 1 Balikpapan. Mereka lebih banyak melakukan ibadah seperti mengaji yang di gelar di sekolah tersebut, Senin (14/7) kemarin.
PAKSI SANDANG PRABOWO/jpphoto
MOS RELIGI: Sejak Masa Orientasi Sekolah (MOS) dalam perloncoan sudah dilarang dari Diknas dalam tahun ini. Hal tersebut di lakukan secara positif murid-murid baru di SMA Negeri 1 Balikpapan. Mereka lebih banyak melakukan ibadah seperti mengaji yang di gelar di sekolah tersebut, Senin (14/7) kemarin.

Kerap Langgar Aturan

BUAHBATU – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menilai ada pembiaran dari pemerintah setempat terkait pelaksanaan Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) yang menimbulkan korban jiwa di Garut. Sehingga, Anies meminta agar pemerintah setempat bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Mengenai hal tersebut jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan MOPD, pemerintah pusat sudah membuat aturan terkait pelaksanaan MOPD yang disebarkan keseluruh wilayah di Indonesia.

Kepala daerah, lanjut Anies, diharuskan untuk melakukan antisipasi, bertindak tegas dan bila ada aturan yang dilanggar diberi sanksi yang tegas dan keras kepada pihak sekolah. Bahkan, selain ke kepala daerah aturan pun sudah diberikan langsung ke tiap sekolah.

”Kita harus mengubah jangan menjalankan kegiatan berdasarkan kebiasaan, tapi berdasarkan aturan . Tapi yang sering kita temukan sekolah atau kepala sekolah itu sering menjalankan bukan berdasarkan aturan, tetapi berdasarkan kebiasaan,” ujar Anies usai diskusi terkait pendidikan kesenian di Kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Jalan Buahbatu, Kota Bandung, kemarin (6/8).

Menurut dia, seharusnya Pemda memberikan sanksi tegas kepada pihak sekolah. Sebab, adanya insiden ini, pihak sekolah dinilai mengabaikan aturan yang dikeluarkan pemerintah pusat.

”Kepala sekolah itu bawahan saya di Kemdikbud sudah saya berhentikan kemarin-kemarin. Tapi kepala sekolah bawahannya siapa? Bawahan Pemda,” ujar dia.

Lebih lanjut, Anies mengatakan, pihaknya meminta agar kasus ini diproses secara hukum oleh pihak kepolisian. ”Proses hukum, itu kan kecelakaan disungai, pertama yang jatuh kakak kelas, tapi yang berbahaya, kegiatan ini dilakukan tanpa kehadiran guru, tanpa kehadiran kepala sekolah. Dan ini yang kemudian harus diberi tindakan disiplin,” papar dia.

Anies menyayangkan adanya insiden MOPD yang menimbulkan korban jiwa ini. Seharusnya, lanjut Anies, insiden seperti ini tidak terjadi pada awal-awal masuk sekolah. ”Yang dilakukan kepolisian sudah benar, proses secara hukum. Jadi supaya sadar tindakan seperti ini akibatnya fatal,” jelas dia.

”Persoalannya bukan di atas kertasnya, perpeloncoan dilarang. Tapi kemudian tidak ada yang menegakan,” terang dia.

Diberitakan sebelumnya, Korban tewas masa orientasi siswa di Garut ditemukan kemarin (5/7). Tim SAR Bandung mendapatkan itu di lokasi yang sama ketika dia tenggelam. Yakni, Sungai Cimanuk Kampung Kerman, Garut pada pukul 08.43.

Korban adalah Fajrin Fauzi, 15, siswa SMK Al-Hikmah. Dia dilaporkan tenggelam saat mengikuti sesi penjelajahan medan, tenggelam pada Selasa (4/8) sekitar pukul 10.00. Upaya pencarian saat itu juga dilakukan penyelenggara, muspika, relawan dan masyarakat setempat.

Kematian Fazri di Garut itu menambah daftar siswa baru yang meninggal di awal tahun ajaran 2015/2016. Sebelumnya Evan Christopher Situmorang, siswa baru SMP Flora Pondok Ungu Bekasi meninggal dunia diduga kelelahan setelah mengikuti MOS. Di akhir pelaksanaan MOS sebelum lebaran lalu, Evan dan kawan-kawannya disuruh berjalan kaki sepanjang 4 kilometer. Evan meninggal dengan keluhan kaki kram dan indikasi asam urat.

Kasus lainnya ada di Bintan, Kepulauan Riau. Dari Bintan dilaporkan Muhammad Arif, siswa SMPN 11 Bintan meninggal setelah dikeroyok teman-temannya. Dia diduga mengalami penganiayaan di tengah-tengah pelaksanaan MOS.

Pelaku pengeroyakan ini diduga adalah sesama siswa baru SMPN 11 Bintan. Sebelum meninggal Arif mengeluh kepada bapaknya bahwa perutnya sakit. (fie/rie)

Untuk Anda
Terbaru