banner

PJJ Ancaman Buruk bagi Siswa

admin darikita 15 April 2020
vertical banner

BANDUNG – Sudah satu bulan lamanya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diterapkan di semua jenjang pendidikan. Mulai dari SD, SMP, SMA/SMK, hingga perguruan tinggi. Metode pembelajaran ini dikhawatirkan dapat memunculkan dampak buruk serta ancaman bagi peserta didik apabila dilakukan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Menurut Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dadan F Ramdhan, aspek emosional anak menjadi hal yang dikhawatirkan selama PJJ.

“Kalau di sekolah atau di kampus mereka bisa terkontrol dari segi kedisiplinan. Khusus anak-anak usia sekolah dasar yang perlu pemantauan lebih ketat dari segi perkembangan psikologis. Khawatir kalau ini ke depan dijadikan satu-satunya tool (alat) untuk pembelajaran jarak jauh mungkin dari penguasaan materi mereka pintar. Tetapi dari sosial atau emosional tidak bisa terkendali,” ujar Dadan kepada Jabar Ekspres, Selasa (14/4).

Dadan menjelaskan, bahwa pendidikan tidak hanya dijadikan sarana untuk transfer of knowledge saja yang sebatas penyampaian materi. Namun, pendidikan juga mampu menjadi sarana untuk melatih emosi serta melakukan berbagai pembiasaan kepada peserta didik. Dia juga merasa jika sudah sepatutnya anak mendapatkan hak yang sama baik ketika belajar di sekolah maupun selama proses PJJ berlangsung.

“Kalau menurut aturan seharusnya hak anak untuk belajar selama PJJ bisa terpenuhi layaknya anak belajar di sekolah. Tetapi ada beberapa hal yang tidak bisa demikian, contohnya ketika ada interaksi dengan siswa akan berbeda antara PJJ dan pembelajaran secara real time atau tatap muka. Mungkin 75 persen tercapai dari segi pembelajarannya, transfer of knowledge-nya. Tetapi dengan ralitas sekrang ini, dengan segala keterbatasannya bisa dilaksanakan dari segi kognitifnya,” ungkapnya.

Dadan yang mengampu mata kuliah Perencanaan Pembelajaran, Manajemen Stratejik, Pengelolaan Pendidikan, dan Telaah Kurikulum menilai, PJJ memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. Menurutnya, kelebihan itu terletak pada guru atau dosen yang mampu terbiasa menjalankan PJJ dengan berbagai media pembelajaran.

“Guru atau dosen yang tidak terbiasa dengan PJJ menjad terbiasa dan mereke mencoba dan mencoba agar bisa melaksanakan kebijakan tersebut. Mereka terus belajar, bagaimana menggunakan zoom, google classroom, dan piranti lainnya atau tool tool yang lain,” tambahnya.

Sementara itu, Dadan juga merasa kekurangan terletak pada media yang digunakan. Aplikasi Zoom misalnya, dalam aplikasi tersebut durasi tatap muka secara daring hanya dibatasi selama empat puluh menit. Sehingga tak heran apabila Dadan melakukan dua sesi tatap muka ketika menyampaikan materi perkuliahan.

Dadan juga memberikan tips terkait strategi pemebelajaran yang bisa digunakan oleh guru atau dose. Pertama dilihat dari aspek materi, sebaiknya guru atau dosen menyiapkan materi semaksimal mungkin. Terlebih ketika ada limitasi waktu dalam sebuah aplikasi tertentu yang dijadikan media pembelajaran.

Strategi kedua dilihat dari aspek metodologi, secara metode materi harus mampu disampaikan secara efektif. Guru harus paham berbagai fitur di dalam media yang digunakan, sehingga mampu menentukan metode yang tepat untuk menyampaikan materi pembelajaran.

“Guru atau dosen juga harus tetap menjaga emosional dengan siswa. Sepuluh menit pertama digunakan untuk bertegur sapa dengan siswa. Saya sapa mahasiswa pada saat tatap muka melalui aplikasi zoom. Saya panggil namanya, tanya kabarnya, ini lah strategi pembelajaran yang saya gunakan untuk mengikat emosional dengan mahasiswa saya, tidak langsung ke materi,” tandasnya.

Oleh sebab itu, Dadan berharap pemerintah pusat maupun daerah khususnya satuan pendidikan saling bahu membahu agar pembelajaran ini berjalan dengan baik. Dengan adanya wabah pandemi Covid-19 ini banyak hal yang tidak terealisasi.

“Saya berharap kedepannya kita harus mempersiapkan dari segi perangkatnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan,” pungkasnya.(mg7/tur)

Untuk Anda
Terbaru