Indonesia Tidak Masuk 600 Perguruan Terbaik Dunia
darikita.com, COBLONG – Masih rendahnya mutu pendidikan perguruan tinggi (PT) di Indonesia dinilai Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli sebagai bentuk kegagalan dalam memberikan metode pembelajaran di perguruan tinggi.
Dia mengaku prihatin dengan kondisi ini. Padahal, secara kualitas individu mahasiswa-mahasiswa memiliki prestasi yang membanggakan dengan banyaknya raihan juara dalam berbagai event lomba olimpiade ilmu pengetahuan.
Menurutnya, penurunan mutu ini juga bisa diakibatkan adanya kesalahan sistem. Hal ini dilihat dari hilangnya nama universitas di daftar perguruan terbaik dunia.
”Ini harus segera diubah dan menjadi perhatian serius. Sebab bila pola pendidikan perguruan tinggi ini dibiarkan begini, bukan tidak mungkin kualitas lulusannya mutunya jadi rendah,” jelas dia usai mengisi seminar di Aula Timur Intitute Teknologi Bandung (ITB) kemarin (15/10).
Dirinya menilai, sistem pendidikan di Indonesia masih menganut sistem feodal dan tidak demokratis. Sehingga cara ini menjadi bentuk pengkangan oleh akademisi dan membuat mahasiswa tidak menjadi kreatif.
Dia berasumsi, bentuk pengelolaan perguruan tinggi di Indonesia juga masih birokratis dan cenderung membutuhkan biaya mahal apabila masyarakat ingin kuliah di perguruan tinggi favorit.
Untuk itu, dirinya berkeinginan agar selain pola pendidikan perguruan tinggi harus diubah. Salah satunya, kata dia, meminta praktisi atau dosen terbaik dunia untuk memberikan ilmunya di perguruan tinggi Indonesia.
”Saya pikir pola ini patut dicoba dan dikembangkan selain mengirimkan sebanyak-banyaknya dosen berprestasi di Indonesia untuk studi ke luar negeri,” jelas dia.
Di tempat sama Menteri Ristek dan Teknologi Mohamad Nasir mengatakan, sebetulnya hasil lulusan mahasiswa Indonesia banyak yang memiliki prestasi yang membanggakan. Hal itu, tidak lepas dari keberhasilan pada pola pendidikan dengan dukungan finansial yang cukup.
Namun demikian, lanjutnya, tidak sedikit juga mahasiswa yang berprestasi ini langsung mendapat tawaran melanjutkan studi keluar negeri. Dengan harapan mendapatkan kualitas lebih baik.
”Nah ketika mereka lulus di luar negeri tidak sedikit dari mereka memilih bekerja di luar negeri. Sebab, mendapat tawaran oleh perusahaan-perusahaan besar,” ucap dia.
Melihat kondisi ini, Nasir menilai, perlu adanya masukan dalam kurikulum pendidikan di tingkat perguruan tinggi dengan mengembangkan kembali bela negara.
”Ini juga penting agar para mahasiswa berprestasi memiliki tanggung jawab kepada negaranya dan harus bersedia membantu pembangunan di Indonesia,” tutup Nasir.
Sementara itu, Rektor ITB Kadarsah Suryadi menilai, ungkapan Rizal mendeskriditkan SDM Indonesia. Sebab, banyak universitas di luar yang sudah bagus tapi rankingnya tidak berada di posisi atas. Padahal jumlah nobel yang diraih oleh stakeholder-nya sudah ratusan.
”Perankingan itu harus berdasarkan cluster pada kategori yang sama dan rasional. Ibaratnya dalam kelas tinju, kelas berat tidak akan disandingkan dengan kelas ringan. Begitu begitu juga dalam dunia pendidikan,” kata Kadarsah sambil menambahkan, dalam bidang teknik dan desain ITB sudah masuk top 50 dunia.
”Bahkan sudah melaksanakan pertukaran dosen dengan beberapa universitas yang ada di luar negeri seperti ke Jerman,” tegasnya. (yan/mg-dn/rie)













