banner

SMAN 10 Tercoreng Bullying

darikita 29 Juli 2015
ANGKI AS/BANDUNG EKSPRES LINGKUNGAN PENDIDIKAN: Meski kasus kekerasan fisik di SMAN 10 Kota Bandung di luar kegiatan orientasi siswa, namun kejadian ini mencoreng nama baik sekolah.
vertical banner
ANGKI AS/BANDUNG EKSPRES  LINGKUNGAN PENDIDIKAN: Meski kasus kekerasan fisik di SMAN 10 Kota Bandung di luar kegiatan orientasi siswa, namun kejadian ini mencoreng nama baik sekolah.
ANGKI AS/BANDUNG EKSPRES
LINGKUNGAN PENDIDIKAN: Meski kasus kekerasan fisik di SMAN 10 Kota Bandung di luar kegiatan orientasi siswa, namun kejadian ini mencoreng nama baik sekolah.
Cekcok di Line, Bertemu, Lalu Ditampar

darikita.com, CIBENYING KALER – Kekerasan fisik ternyata masih terjadi di lingkungan pendidikan. Kemarin (28/7), seorang ibu bernama Mila bersama anak perempuannya, X (korban enggan disebutkan inisial namanya, Red), mendatangi Polsek Cibeunying Kaler. Mereka melaporkan tindakan AY dan MD yang mengarah pada perilaku bullying.

AY dan X merupakan siswi SMAN 10 Kota Bandung yang beralamat di Jalan Cikutra. Senin (27/7) lalu, X ditampar oleh AY gara-gara hal sepele. Ironisnya, peristiwa ini terjadi pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), meskipun di luar agenda MPLS.

Mila menjelaskan, percekcokan berawal dari X yang dihapus dari grup chat di media sosial Line. Entah bagaimana, lanjut Mila, salah seorang anggota grup Line, yakni AY, tiba-tiba memaki X. Padahal, X hanya bertanya kepada AY, mengapa dikeluarkan dari grup Line secara tiba-tiba. ’’Saya bilang ke anak saya, sudah keluar saja dari grup. Rupanya anak itu (AY) dendam dan mencari tahu anak saya,’’ kata dia saat ditemui di SMAN 10 Bandung, Jalan Cikutra, kemarin (28/7).

Diketahui, AY adalah senior X (kelas XII). AY kemudian mencari tahu keberadaan X. Di dalam grup Line tersebut, ada pula seorang alumni yang membantu AY bertemu dengan X, yakni MD. MD adalah alumni SMAN 10 Kota Bandung yang baru lulus dan berstatus mahasiswi.

Mila menjelaskan, saat hari kejadian, anaknya itu menerima telepon dari MD yang mengajak untuk bertemu. Secara terus menerus, MD menelepon X sambil mengancam. Karena merasa tidak enak dan menghargai MD sebagai alumni, X mendatangi M yang menunggu di area depan sekolah. Di sana, MD sudah bersama dengan AY.

Selanjutnya, MD dan AY mengajak X mengobrol di tempat sepi. ’’Akhirnya anak saya dibawa ke tempat sepi (belakang gedung laboratorium fisika),’’ papar dia.

Mila menceritakan, MD mengancam anaknya dengan nada tinggi, Mila mencontohkan kata-kata yang diucapkan MD. ’’Kamu minta maaf sudah kurang ajar. Anak saya tanya kurang ajar kenapa? Lalu AY ini ngomong, kamu kenal sama saya? Anak saya merasa nggakkenal, terus dia bilang, kamu minta maaf ke saya. Lalu anak saya sudah mulai nggaknyaman,’’ kata dia sambil menirukan gaya bicara pelaku.

Ketika X mulai tidak nyaman, tiba-tiba AY memegang wajah X dan menyuruhnya untuk meminta maaf. ’’Sambil megang muka anak saya, dia (AY) bilang, kamu minta maaf ke muka saya, sambil terus ditoyor,’’ jelas Mila.

Saat bersamaan, salah seorang teman X melihat kejadian tersebut dari parkiran, yang lokasinya berdekatan dari tempat kejadian. Entah kaget atau apa, X tiba-tiba ditarik oleh pelaku, AY, lalu ditampar. Usai kejadian, X langsung menelepon Mila. Bahkan, Mila bergegas melakukan visum terhadap anaknya usai kejadian. Diapun melaporkan kejadian yang menimpa X kepada sekolah dan pihak berwajib.

Saat dihubungi Bandung Ekspres kembali, Mila mengaku, kondisi anaknya saat ini sudah stabil. X sudah tidak ketakutan lagi, karena sudah melakukan mediasi dengan orangtua pelaku. Namun menurutnya, orangtua murid dan sekolah mesti berkomunikasi dengan baik. Supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi. Sebab, perilaku anak didik adalah tanggung jawab bersama.

Mengenai hukuman yang pantas untuk pelaku, Mila lebih setuju hukuman yang mendidik. Tetapi, hukuman untuk perilaku kekerasan sudah ditentukan dalam Undang-Undang. ’’Pokoknya stop kekerasan terhadap anak di manapun. Jangan hanya jadi slogan. Harus saling mengawasi dan take action,’’ jelasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Kota Bandung Isnaeni Zakiah mengakui bahwa di lingkungan sekolah yang dipimpinnya telah terjadi kekerasan fisik. Namun, dia menegaskan, kasus ini terjadi di luar kegiatan MPLS. ’’Saya baru dengar laporannya jika kemarin sore ada kasus seperti ini,’’ kata Isnaeni saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (28/7).

Isnaeni mengatakan, pihaknya akan menggali informasi dengan memanggil seluruh orang tua murid yang terlibat. Dia berharap, kasus yang telah ditangani pihak kepolisian dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan.

Namun, MD dan AY akan tetap diberikan pelajaran meski status mereka bukan siswi lagi. Dia mengaku, akan memikirkan hukuman yang pantas. ’’Misalnya penahanan ijazah. Tapikan kasihan juga, karena dia sedang mau meneruskan pendidikan. Jadi kita akan lihat hukumannya seperti apa,’’ ujar Isnaeni.

Terpisah, Kapolsek Cibeunying Kidul Kompol Kasmilan mengatakan, antara korban dan pelaku memang sudah ada masalah di sosmed. Namun, dia belum mengetahui secara rinci, masalah apa yang membuat keduanya terlibat. Dia memastikan, kasus ini tak ada hubungannya dengan kegiatan orientasi siswa yang sedang dilaksanakan. ’’Kami sudah terima laporannya dan kami tindaklanjuti dengan memanggil para saksi dan terduga pelaku,’’ jelas Kasmilan. (fie/bbs/tam)

Untuk Anda
Terbaru