
SALING PUKUL: Seorang anggota polisi tersulut emosi setelah para mahasiswa melakukan aksi nunggu di hadapan polisi dan KPU Kabupaten Bandung kemarin.
darikita.com, MARGAHAYU – Aksi unjuk rasa di depan Kantor KPU Kabupaten Bandung di Komplek Taman Kopo Indah 1,Kecamatan Margahayu, kemarin (7/9). Kericuhan terjadi setelah mahasiswa tidak puas karena tidak puas saat audiensi dengan ketua KPU Kabupaten Bandung.
Berdasarkan informasi, aksi tersebut muncul dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Mereka menuntut pihak KPU agar tetap netral dan tidak berpihak kepada salah satu paslon bupati/wakil bupati.
Meraka beranggapan, selama ini KPU dan Panwaslu seolah melakukan pembiaran terhadap oknum-oknum aparat pemerintahan yang berpihak pada salah satu paslon. ”Selama ini sudah sangat jelas ada oknum-oknum di beberapa kecamatan yang mengorganisir warga untuk memilih salah satu paslon. Harusnya KPU dan Panwaslu bisa bertindak tegas akan hal ini,” ungkap ketua koordinator aksi Pengkih Bima MF, disela unjuk rasa.
Selain hal itu, Pengkuh juga sangat menyesalkan dengan kurangnya sosialisasi yamg dilakukan KPU. Sebab, pada kenyataannya di lapangan masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui soal akan dilaksanakannya Pemilukada di 9 Desember mendatang. ”Mereka bahkan tidak tau siapa saja calon yang akan maju menjadi pemimpin mereka,” ujarnya.
Dari pantauan, pada awalnya aksi yang tersebut berjalan dengan cukup aman dan terkendali. Selain melakukan orasi, para mahasiswa tersebut sempat melakukan aksi bakar ban di depan gerbang kantor KPU, serta aksi teaterikal yang berjalan cukup kondusif. Mereka juga sempat mengungkapikan aspirasinya dengan menuliskan tuntutan mereka terhadap KPU dengan cat semprot di jalan depan kantor KPU.
Mereka berharap ketua KPU bisa menemui mereka untuk melakukan audiensi. Namun ternyata Atip Tartiana hanya sebentar menemui mereka. Bahkan, tidak sempat melakukan dialog. Sehingga keadaan pun mulai memanas.
Diawali dengan aksi nungging bersama, para mahasiswa tersebut kemudian terlibat adu mulut dengan aparat kepolisian. Kondisipun kian memanas saat terjadi aksi dorong antara kedua pihak. Lalu tidak hanya saling dorong, aparat kepolisian pun mulai melakukan perlawanan dengan melakukan tendangan terhadap beberapa mahasiwa.
Setelah kondisi makin panas, polisi kemudian melepaskan tembakan peringatan yang akhirnya membuat para mahasiswa lari terbirit-birit untuk menghindar. Akhirnya massa pun membubarkan diri.
Menanggapi unjuk rasa tersebut, ketua KPU Kabupaten Bandung Atip Tartiana justru berterima kasih kepada para mahasiwa karena dengan adanya unjuk rasa tersebut, menurut Atip seolah-olah menjadi vitamin agar pihaknya bisa bekerja lebih maksimal lagi. ”Saya berterima kasih karena ini memicu kita untuk bekerja lebih maksimal lagi dalam penyelenggaraan pemilu. Kami selama ini sudah bertindak netral karena memang sudah seharusnya seperti itu,” ungkapnya.
Menurutnya selama ini sama sekali pihak-pihak yang mengendalikan KPU. Sebab, mereka hanya mengacu kepada KPU RI dan KPU Provinsi. ”Toh fakta kita memihak salah satu calon kan tidak ada,” ujarnya.
Terkait kurangnya sosialisasi yang mereka lakukan, dia tidak membantahnya. Namun dia menegaskan selama ini telah menggandeng beberapa pihak untuk membantu sosialisasi terhadap masyarakat termasuk melalui media massa.
”Walaupun memang ada yang masih belum tahu soal pilkada ini, namun saya yakin sudah banyak masyarakat yang mengetahuinya. Makanya diharapkan bisa saling memberitahu,” pungkasnya. (mg15/rie)













