Namun untuk kebutuhan konsumsi di luar rumah tangga yang oleh pihaknya menjadi perhatian khusus. Mengingat maraknya industri kuliner olahan yang menggunakan bumbu cabai.
Disinggung soal harga, dia mengaku lonjakan harga cabai sangat dipengaruhi kondisi di daerah lain juga. Ketika suatu provinsi bergejolak maka daerah lain juga terkena dampak walaupun sebagai pemasok. ”Tapi memang kalau suplai di satu provinsi bergejolak akan merembet ke provinsi lain. Kita tidak bicara harga lokal tapi harga nasional. Karena acuan harga banyak dari Pasar Induk yang pasokannya dari mana-mana. Makanya kita kena juga,” tuturnya.
Meski demikian, dia meyakini harga cabai akan segera turun. Kenaikan kemarin terjadi karena libur Natal dan Tahun Baru yang membuat banyak pedagang tutup sehingga pasokan terhambat. ”Ini (lonjakan harga) tidak akan lama. Di akhir Februari turun. Cabai masih banyak,” ucapnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan juga menegaskan, pasokan cabai rawit di Jawa Barat masih tergolong aman. Apalagi Jawa Barat menjadi salah satu daerah pemasok cabai untuk daerah lain. ”Pasokan (cabai) aman-aman saja. Ada ekspor, ada yang dikirim me provinsi lain. Ketika dimasifkan (secara nasional) memang kurang tapi Jabar cukup,” kata Heryawan usai menanam bibit cabai bersama kelompok tani di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Gubernur menyebutkan, Pemprov Jabar tengah mengupayakan gerakan menanam cabai kepada masyarakat. Agar warga bisa memanfaatkan lahan rumanhnya untuk menanam cabai guna kebutuhan rumah tangga. Hal tersebut dinilainya dapat menekan harga cabai yang kerap mengalami lonjakan.
Selain itu, Gubernur juga mensorong petani untuk memepebanyak area tanam serta memilih bibit cabai dan bertanam dengam cara yang berkualitas. Sehingga ketika cuaca buruk bisa bertahan.













