Portal berita dari masyarakat untuk IndonesiaJaringan Media KRIEZ  •  Redaksi  •  Pedoman Media Siber  •  Pasang Iklan
Dari Kita • Untuk Indonesia
Kamis, 17 September 2026
Bandung, Jawa Barat
Berlangganan
TERKINIKemenkes dan CEPI Uji Kesiapsiagaan Target Vaksin 100 Hari untuk Ancaman Pandemi

Sebulan Terakhir Digerogoti Bakteri, ”Yani” Mati Tak Terurus

Oleh • 13 Mei 2016 • 07:51

darikita.com, BANDUNG – Gajah ”Yani” akhirnya menjalani autopsi dari Sembilan dokter hewan. Hasilnya, untuk sementara Yani divonis mati karena mengalami penyakit paru-paru yang disebabkan oleh bakteri.

Kepala Balai Pengujian dan Penyidikan Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Jawa Barat Sri Muji Artiningsing mengatakan, membutuhkan waktu tiga bulan untuk mengetahui detail apa yang mengakibatkan Yani mati. ”Hasil autopsi belum final,” kata Sri setelah melakukan autopsy di Kebon Binatang, Jalan Tamansari, Kota Bandung, kemarin (12/5).

Pemeriksaan awal, kata dia, tanda-tanda fisik Yani diketahui selain mengalami dekubitus (iritasi kulit dan mengelupas) disebabkan gesekan karena gesekan dengan jerami. Yani juga diketahui mengalami  penurunan berat badan gajah selama satu bulan terakhir.

”Bakteri kami temukan pada paru-paru, limpa dan hati,” ujarnya. ”Jika dilihat dari hal itu, gajah yani bisa diprediksi mengalami radang paru-paru dan hati,” tambahnya.

Dia mengatakan, bangkai gajah Yani saat ini sudah dikuburkan di area Kebon Binatang. Posisinya tak jauh dari tiga kandang lain gajah lain. ”Kuburannya dilapisi kapur, desinfektan, tanah, dan kapur,” ujarnya.

Untuk sementara, pengunjung Kebon Binatang tidak bisa mendekati kandang gajah. Bahkan, satwa lainnya pun agak dijauhkan dengan harapan, tidak menularkan penyakit ke satwa lain. ”Khusus untuk pengunjung untuk sementara tidak boleh mendekati kandang gajah terlebih dahulu. Petugas telah memberikan batas agar tidak melewati batas tersebut,” tuturnya.

Selain itu, Sri juga menegaskan, matinya Yani disebabkan oleh manajemen pakan yang kurang baik. Menurut dia, dari sisi kualitas dan jumlah makanan yang diberikan tidak memenuhi standar metabolisme gajah.

”Untuk tiga gajah lainnya jangan sampai mengalami hal yang sama dengan Yani. Mereka perlu mendapatkan perawatan yang lebih baik,” ucapnya.

Laman: 1 2 3 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *