banner

Ujang Nyaris Gosong

darikita 15 Oktober 2015
Yully s yulianti/bandung ekspres DALAM PERAWATAN: Ujang Zaman Arifin saat menjalani perawatan di rumah sakit kemarin. Hingga kini korban masih mengalami pendarahan dari telinga akibat tersambar petir.
vertical banner
Asik Main Handphone Lalu Tersambar Petir

darikita.com, BALEENDAH – Ujang Zaman Arifin, 45, warga Kampung Sukajadi RT 03/RW 12, Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, nyaris tewas akibat tersambar petir saat motor di Kampung Rancamanuk, Kelurahan Wargamekar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Selasa (13/10) sekitar pukul 15.30.

Kanit Reskrim Polsek Baleendah, Ipda Indra Ardyana mengatakan, saat itu korban sedang mengendarai sepeda motor di lokasi kejadian. Di saat bersamaan saat petir terjadi, korban juga sedang memegang telepon.

”Lalu tiba-tiba korban tersambar petir dan langsung jatuh dari motor,” kata Indra di Mapolsek Baleendah, kemarin (14/10).
Dia mengatakan, korban mengalami luka bakar di bagian kedua tangan, dada, leher depan sebelah kanan dan telinga mengalami pendarahan. ”Saat ini korban masih dirawat di RS Al-Ihsan Baleendah,” ujarnya.

Indara menjelaskan, memasuki musim hujan rupanya bukan hanya membuat waspada akan terjadinya banjir dan bencana alam. Tapi penggunaan handphone saat kendara juga berisiko sambaran petir. Sebab, beberapa temuan juga menguatkan tentang bahaya keterikatan antara handphone dan petir.
Dia menilai, pesawat telekomunikasi yang ketika aktif, antena yang juga berbahan dasar konduktor berusaha mencari atau menangkap sinyal-sinyal komunikasi berupa gelombang medan elektromagnetik. Di dalam antena tersebut elektron bergerak menghasilkan gelombang medan listrik-magnet. ”Ditambah lagi adanya medan listrik pada handphone akibat kebocoran medan listrik statis dari baterai handphone,” tuturnya.

Dengan demikian, lanjut Indra, di dalam handphone korban terdapat cukup banyak muatan yang dapat menghasilkan medan listrik. Cara kerja tersebut ini serupa dengan apa yang terjadi pada cara kerja penangkal petir beradiokatif.

”Medan listrik yang terdapat di sekitar handphone dapat mempengaruhi gerak ion dan molekul udara. Pada akhirnya keadaan ini berpeluang besar untuk dilalui aliran listrik atau sambararan petir,” tuturnya.

Sementara itu, Dede, 61, kaka korban membenarkan bahwa Ujang saat kejadian sedang mengendarai motor dan menggunakan handphone. Bahkan keluarganya pun sampai saat ini masih mencari handphone yang terakhir dipegang korban.

”Menurut warga sekitar yang melihat, Ujang terakhir terlihat sedang menggunakan handphone dan petir langsung menyambarnya,” papar Dede.

”Adik saya mengalami pendarah di telinga sampai sekarang. Berutung adik saya diselamatkan warga dengan diantarkan ke rumah sakit,” tambahnya.
Sebelumnya, kata dia, pihak keluarga sudah memiliki firasat saat beberapa kali petir menggelegar. ”Hati serasa resah tidak karuan, mungkin kontak nurani keluarga. Ternyata benar adik kandung saya menjadi korban sambaran petir. Di tempat kejadian itu, jarang sekali pohon kebanyakan sawah-sawah, jadi rentan sekali dengan petir,” pungkasnya. (yul/rie)

Untuk Anda
Terbaru