banner

UN Perbaikan Sepi Peserta

darikita 25 Februari 2016
ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA KONSENTRASI: Siswa mengerjakan soal-soal Ujian Nasional (UN) tahun lalu. Sementara itu, UN perbaikan di Surabaya sepi peserta.
vertical banner

Satu Ruang Diisi Satu Peserta

Darikita.com– Penyelenggaraan Ujian Nasional Perbaikan (UNP) yang digelar mulai Senin (22/2) hingga Jumat (5/3), bisa disebut gagal. Tak hanya anggaran UNP yang belum jelas, penyelenggaraan UNP juga terlihat mengecewakan.

Sebab, sesuai fakta, dari 3.148 alumnus SMA/SMK se-Surabaya yang nilainya di bawah SKL (standart kompetensi kelulusan), hanya 1.404 lulusan yang daftar ulang UNP. Rinciannya, dari 2.322 lulusan SMA di bawah SKL, hanya 478 lulusan yang mendaftar UNP.

Sedangkan dari 936 lulusan SMK di bawah SKL, hanya 137 yang daftar UNP. Ironisnya lagi, yang hadir waktu pelaksanaan cuma 48 lulusan. Sebanyak 27 lulusan SMA dan 21 lulusan SMK.

Salah satunya terlihat di SMAN 1 Surabaya. Dari 82 peserta yang mengikuti UNP, ternyata hanya 15 siswa yang melakukan daftar ulang. ”Namun, pada pelaksanaan ternyata hanya satu lulusan yang hadir,” kata proktor SMAN 1 Surabaya, Tri Widodo ditemui di Lab 1 SMAN 1 Surabaya, kemarin.

Satu-satunya lulusan yang hadir adalah Nur Jannah Novita Sari, 18, dari SMA Muhammadyah 2 Gresik. Dia mengikuti UNP untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Melihat fakta lapangan seperti ini, bagaimana penyelenggara sekolah tidak kesal. Pasalnya, untuk UNP ini, proktor SMAN 1 Surabaya menyediakan lima server. Tiga server utama dan dua server cadangan. UNP digelar dalam tiga sesi. ”Satu server bisa menampung 40 siswa, tapi yang datang cuma satu. Tidak apa-apa, yang penting kita bisa maksimalkan server tersebut,” kata Tri.

Meski jumlah siswa yang ikut UNP sedikit, Tri tidak mempersoalkan. Sebab, baginya jumlah server yang banyak itu juga diperlukan untuk persiapan UNBK 2016 April mendatang.

Hal yang sama terjadi di SMKN 8 Surabaya. Dari pendaftar mencapai 81 orang, yang hadir dalam UNP di SMK yang berada di kawasan Ambengan tersebut hanya 3 orang. Minimnya jumlah peserta UNP tersebut diprihatinkan banyak pihak. Sekretaris panitia UN Jatim 2016, Gatot Gunarso menyatakan, banyak faktor yang membuat UNP ini sepi. Di antaranya, bertepatan dengan ujian tengah semester alumnus SMK/SMA yang sudah kuliah di perguruan tinggi. ”Kebetulan di kampus lagi ujian, mungkin karena itulah banyak lulusan yang tidak bisa hadir,” kata Gatot ketika sidak di SMA kompleks, kemarin.

Faktor lainnya, yakni banyak lulusan yang sudah bekerja tidak mendapatkan ijin mengikuti UNP oleh perusahannya. Dengan demikian, lulusan pun tidak bisa mengikuti UNP meski sudah jauh-jauh hari meminta ijin perusahannya.

Gatot menyatakan, minimnya jumlah peserta UNP ini juga tidak lepas dari SOP (Standar Operasional Prosedur) terkait dengan kelulusan siswa. Isinya, siswa dianggap lulus bila sudah mengikuti satu kali UN. Dengan demikian, muncul stereotype bahwa UNP tidak perlu lagi. Apalagi, nilai UNP tidak menjadi penentuan siswa masuk perguruan tinggi ataupun perusahaan. ”UNP dianggap sudah tidak sakral. Mengalami degradasi fungsi, siswa tidak takut lagi dengan UN. Tidak perlu pusing belajar atau ke dukun supaya bisa lulus. Yang penting sudah ikut UN saja lulus,” kata Gatot. (han/jpnn/fik)

Untuk Anda
Terbaru