Tambah Proctor dan Teknisi di Ruang Ujian
darikita.com, Meski berbasis komputer, pelaksanaan ujian nasional mendatang juga tetap membutuhkan pengawas ruangan. Selain itu, ada tambahan proctor sekaligus teknisi yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) di sekolah masing-masing.
Wakil Kurikulum SMA 17 Agustus 1945 Taufik Hidayat menyatakan, pengawasan dalam UNBK menggunakan silang penuh. Artinya, pengawas di satu sekolah tidak boleh menggunakan pengawas dari sekolah yang sama. ”Tetapi dari sekolah lain,” katanya.
Pengaturan pengawasan silang penuh itu sesuai dengan petunjuk operasional standar (POS) ujian nasional 2015-2016. Pengawasan silang di sekolahnya akan diatur subrayon. Demikian juga guru-guru di sekolahnya yang akan diatur subrayon untuk menjadi pengawas di sekolah lain.
Dalam satu ruang ujian, kata dia, akan ada tiga orang. Yakni, terdiri atas 1 pengawas, 1 proctor, dan 1 teknisi. Berbeda dengan pengawas dari sekolah lain, teknisi dan proctor berasal dari sekolah asal.
Taufik menyebutkan, di sekolahnya ada dua ruang lab yang digunakan untuk UNBK. Ada 80 komputer, termasuk 10 komputer cadangan, yang akan digunakan siswa. Nah, lantaran ada dua ruang ujian, pihaknya akan membutuhkan enam pengawas. ”Karena UNBK dilaksanakan dalam tiga sesi dan dua ruang, jadi butuh enam orang,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala SMAN 14 Muntiani mengungkapkan, meski UNBK memiliki soal yang acak untuk setiap siswa, pengawasan tetap dilakukan secara silang. Menurut dia, pengawasan silang bisa semakin memperkuat integritas kejujuran, baik siswa maupun sekolah.
Tahun ini ujian nasional juga menjadi pertimbangan dalam seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN). Terutama pertimbangan dari sisi indeks integritas sekolah. Karena itu, agar pelaksanaan ujian nasional berjalan dengan baik, pihaknya juga mengajak siswa untuk belajar dan mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. ”Kami juga gugah secara psikis dan batin dengan motivasi-motivasi,” katanya.
Lalu, Wakil Kepala SMPN 22 Atim Surahman menjelaskan bahwa setiap ruangan terdiri atas dua guru. ”Semuanya silang penuh dalam satu subrayon,” ujarnya. Guru pengawas tidak boleh bertugas di sekolah sendiri. Begitu juga dalam satu ruang ujian. ”Ada dua guru pengawas. Dua orang itu tidak boleh dari sekolah yang sama. Sudah ada aturannya,” ungkapnya.
Apabila ada kendala saat ujian, Atim menyatakan hal tersebut akan segera mendapatkan penanganan karena ada satu proctor di setiap ruang ujian. ”Cepat mendapatkan penanganan,” tuturnya. ”Tapi, di POS UNBK memang hanya tertulis bahwa di setiap sekolah minimal ada seorang proctor. Kalau lebih ya boleh,” ucapnya.
Atim menuturkan, proctor memiliki tugas berat. Proctor bertanggung jawab mengunggah sekaligus mengunduh soal ujian. Saat siswa masuk, proctor harus memastikan tampilan komputer sudah siap. ”Saat siswa masuk dan ujian dimulai, tinggal masukkan PIN dan username,” ujarnya.
Selain proctor, SMPN 22 sudah menyediakan dua teknisi. Jumlah tersebut, ungkap dia, disesuaikan dengan ruang ujian di SMPN 22 yang terbagi menjadi dua lantai. ”Satu lantai kami sediakan satu teknisi. Kalau ada masalah di jaringan dan server, mereka dapat bergerak cepat,” terangnya.
Kepala SMPN 3 Budi menyatakan, pihaknya telah menyediakan tiga ruang ujian. Dengan begitu, terdapat enam pengawas UNBK. ”Semua guru pengawas silang penuh dari subrayon,” ucapnya.
Selain itu, Budi telah mempersiapkan guru SMPN 3 yang bertugas menjadi proctor dan teknisi. ”Mereka merupakan guru-guru yang ahli komputer dan jaringan,” tuturnya. Dalam satu ruang ujian, ada 1 proctor dan 1 teknisi. Dengan begitu, Budi berharap, apabila terjadi masalah dalam UNBK, dapat segera mendapatkan penanganan dengan cepat. ”Jadi, siswa sudah tidak perlu khawatir lagi,” ungkapnya.
Sementara itu, sekolah semakin siap jelang UNBK. Salah satunya ditunjukkan oleh SMA IT Al Uswah. Kepala SMA IT Al Uswah Muhammad Edris Effendi menerangkan, secara sarana dan prasarana, pihaknya sudah siap untuk melaksanakan UNBK. Ada 25 siswa kelas XII di SMA IT Al Uswah. ”Kami juga sudah menyiapkan 16 komputer untuk dua sif pelaksanaan UNBK nanti,” katanya.
Namun, karena SMA IT Al Uswah masuk kategori sekolah baru dan belum terakreditasi, sekolah bergabung secara administrasi pada SMAN 20. ”Hanya administrasi. Semua pelaksanaan ujian berlangsung mandiri,” ungkapnya. Termasuk dalam pelaksanaan US pekan ini. ”Kami juga memiliki izin operasional. Jadi, masih dapat menyelenggarakan sendiri di sekolah,” tambahnya. (bri/puj/c20/end/rie)













