banner

Wisata Halal Hanya Tren

darikita 19 Desember 2016
WISATA RELIGI: Sejumlah jemaah menunaikan kewajibannya salat Dzuhur di Masjid Al-Irsyad, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Masjin ini kerap dijadikan persinggahan wisatawan karena bangunan yang unik dan nyaman untuk melakukan aktivitas keagamaan.
vertical banner

Budi menganggap, konsep wisata halal akan menjadi boomerang di kemudian hari. Sebab, pemerintah tidak bisa mengeluarkan regulasi terkait wisata halal. Sejauh ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) hanya mengeluarkan sertifikat halal untuk makanan.

Sementara itu, Manajer Marketing Garuda Indonesia Branch Office Bandung Yudianto mengatakan, konsep wisata halal sudah muncul sejak 10 tahun lalu. Namun, baru booming tiga tahun terakhir ini.

Menurut Yudi, sejak 2006, Garuda Indonesia telah memiliki paket wisata muslim. Namun, karena wisata muslim itu terlalu general maka muncullah istilah halal.

”Yang mencari (wisata halal) itu bukan hanya orang-orang muslim saja, tapi non muslim juga ingin halal. Saat wisata mereka ingin makanan bebas port, meskipun Indonesia itu sudah tidak diragukan lalu kehalalannya,” ujar Yudi.

Dia mengakui, konsep wisata halal dan konvensional tidal terlalu berbeda. Destinasi yang ditawarkan pun sama. Namun perbedaannya, dalam wisata halal, para wisatawan dijamin bebas babi, diingatkan waktu salat serta ada kunjungan ke masjid yang memiliki nilai history.

”Kunjungannya sama-sama saja. Jika ke Tiongkok itu yang dilihat Tembok Besar China, Summer Palace, Forbiden City dan lain-lainnya. Namun jika bicara halal, kita ingetin waktu salatnya, jamin makananya, ada disisipin kunjungan ke masjid sejarah,” ujar Yudi.

Sebelum menjual paket wisata halal, kata Yudi, tim Garuda Indonesia melakukan survei ke destinasi yang akan dikunjungi. Tim bertugas menyiapkan keperluan ibadah para wisatawan. Sebab, jika yang dikunjunginya negara mayoritas non muslim akan sulit mendapati masjid. Maka itu, tim biasanya meminta manajemen restoran untuk menyiapkan ruang khusus untuk salat. ”Jadi wisatawan dibawa makan sekaligus salat jika jauh dari masjid,” tegasnya.

Menurut dia, pelaku industri pariwisata memanfaatkan konsep wisata halal untuk meningkatkan penjualannya. seperti yang dirasakan Garuda Indonesia Cabang Bandung.

Untuk Anda
Terbaru