BANDUNG – Tiga kepala daerah berprestasi Gubernur Jabar Ridwan Kamil (Emil), Bupati Bayuwangi Azwar Anas, Bima Arya dan Mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memberikan kisah-kisah inspiratif kepada ratusan generasi milenial dalam memajukan daerahnya.
Menurutnya, Selama ini pemprov Jabar sudah memberikan ruang khusus bagi para generasi muda melalui program-program unggulannya. Bahkan, pemprov sudah memiiki Perda tentang pengembangan ekonomi kreatif.
“Saya sudah berdialog langsung dengan generasi muda diberbagai kesempatan, dan saya berikan ruang seluas luasnya untuk bersinergi dengan pemprov Jabar,”kata Emil ketika ditemui usai acara seminar ispiratif dengan tema, ‘Mari Bung Rebut Kembali’ digedung Sasana Budaya Ganesa Sabtu malam (9/2).
Pentingnya menjaga persatuan menjadi syarat utama sebuah negara menjadi maju dan terus berkembang. Sehingga, roda perekonomian pun terus tumbuh dan ide kreatif akan berkembang.
Emil mengatakan, banyak kisah negara-negara besar yang pecah bahkan musnah, semisal Afghanistan yang tujuh suku besar di sana tak pernah berhenti bertikai. Begitu juga Yugoslavia yang kini terpecah menjadi Serbia, Bosnia-Herzegovina, dan Kroasia.
“Di Afghanistan, seminar yang membicarakan industri kreatif seperti ini tak mungkin dilakukan,” jelas Emil.
Oleh karena itu, keragaman suku, agama, bahasa, dan ras, harus dijaga agar industri kreatif bisa terus tumbuh di Indonesia. Selain itu, penguatan SDM juga harus dilakukan. Sebab, manusia Indonesia di masa depan tak hanya harus pintar secara intelektual tapi juga emosional.
“Jangan kaya seperti yang viral itu yah, ditilang motor malah dirusak sendiri,” ucap Emil.
Sementara itu, Wali Kota Bogor Bima Arya dalam pembekalannya lebih mengedepankan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) membuat generasi muda saat ini memiliki banyak kemudahan dan memiliki jutaan kesempatan.
’’Untuk mengembangkan diri. Teknologi saat ini membuat seluruh hal di dunia seolah berada dalam genggaman,”kata dia.
Bima menilai, berkat perkembangan teknologi sebetulnya berbagai informasi sangat didapatkan dengan mudah. Padahal, zaman dahulu kalau cari bahan skripsi harus ke perpustakaan atau beli buku-buku. Sekarang tinggal mencari di internet, semuanya ada di situ.
Dia menuturkan, 50 persen masyarakat Indonesia terakses internet. Khusus Kota Bogor yang miliki penduduk sekitar satu juta jiwa, nyaris seluruhnya terhubung dengan dunia maya.
Bahkan, warga Kota Bogor sendiri 75 persen menggunakan Facebook.
Selain itu, dalam mewujudkan ekonomi kreatif Kota Bogor sendiri banyak memiliki berbagai program Bahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan bantuan sebesar Rp 18 miliar guna membangun rumah kreatif, yang didalamnya terdapat industri musik, perfilman maupun teater.
“Tahun ini segera dibangun, insya Allah akhir rumah kreatif ini akan diresmikan,” terangnya.
Sementara itu, Bupati Bogor Azwar Anas dalam paparannya lebih menekankan bahwa generasi muda harus lebih banyak memiliki ide dan kemauan untuk mewujudkannya.
Azwar menceritakan pengalamannya dalam membangun Kota Banyuwangi. Menurutnya, Banyuwangi dulu adalah kota yang sangat tidak produktif dan banyak sekali masyarakat miskin.
Namun, saat ini Banyuwangi telah berkembang menjadi Kota kreatif dengan berbagai inovasi layanannya. Bahkan, di Banyuwangi telah diciptakan Bandara Udara dengan konsen Green Airport.
Selain itu, pengembangan disektor Pariwisata Banyuwangi telah melakukan berbagai penataan. Sehingga, Kawah Ijen menjadi destinasi wisata mendunia.
Berkat keberhasilannya itu, lanjut dia, Banyuwangi telah diberikan berbagai penghargaan dari pemerintah pusat dan dunia internasional.
Sementara itu, manta Bupati Purwakarta Dedi Mulayadi dalam kesempatan tersebut lebih menekankan kepada generasi milenial agar jangan pernah lupa pada akar budaya.
Menututnya, kebaradaan budaya bangsa khususnya sunda, banyak mengandung maksud dan tujuan sangat baik. Bahkan dengan menerapkan asas budaya pembangunan akan tetap terjaga kelestarian lingkungannya.
’’Ini yang seharusnya dipegang oleh setiap kepala daerah, makanya saya sangat terkesan dengan keberhasilan pembangunan di Banyuwangi yang begitu pesat tapi tanpa meninggalkan adat istiadat kebudayaan setempat,”tutup Dedi. (yan)












