Portal berita dari masyarakat untuk IndonesiaJaringan Media KRIEZ  •  Redaksi  •  Pedoman Media Siber  •  Pasang Iklan
Dari Kita • Untuk Indonesia
Sabtu, 7 November 2026
Bandung, Jawa Barat
Berlangganan
TERKINIPP TUNAS Dorong Platform Digital Melindungi Sekitar 70 Juta Anak Indonesia

Biaya Politik Besar karena Masa Kampanye Tiga Bulan

Oleh • 16 Mei 2017 • 03:12

Dirinya menilai, dalam penyelenggaraan kampanye nanti KPU akan memberikan fasilitas berupa alat peraga kampanye, biaya sosialisasi, seragam dan lainnya. Tapi, untuk berbicara mengenai mahalnya biaya pilkada harus dimulai substasinya dari awal.

Iswara menuturkan, mahal­nya biaya pilkada harus dihitung dari tahapannya. Sebab, untuk cost politik tidak bisa dipisah­kan pada pilkada nanti.

Sebagai praktisi politik yang pernah maju dalam ajang Pilwalkot Bandung 2013 lalu, masalah biaya dalam politik adalah kebutuhan yang sang­at mendasar. Bahkan, dalam praktiknya, persiapan biaya terbagi dalam dua bagian yaitu, untuk pengeluaran se­jak dari tahapan pemilu hingga kondisi terburuk yaitu gugatan di Mahkamah Kon­stitusi (MK).

”Ini pengeluaran yang tidak sedikit saya harus menunggu selama 10 tahun untuk menunggu gugatan hasil dari MK pada pilkada di tahun 2005 lalu,” ucap Iswara.

Kendati begitu, dengan atu­ran Undang-undang Nomor 10 tahun 2016 serta aturan turunan lainnya yang men­guatkan aturan pilkada. Ma­ka pilkada kali ini lebih te­rasa panjang namun lebih ringan. Sehingga sangat men­guntungkan bagi calon calon kepala daerah yang akan maju dalam Pilkada serentak 2018 nanti.

Dirinya berpendapat, pada pilkada kali ini memang lebih otonom. Namun, secara garis partai, kata dia, hingga saat ini belum ada satu pun partai yang memberikan otoritas ke daerah untuk mempercayakan calon yang dijagokan untuk pilkada.

”Memang alangkah baiknya khusus untuk pemilihan bu­pati misalnya, cukup rekomen­dasi dari DPD (Jabar, Red). Tapi hingga saat ini kan masih bermuara ke pusat. Dan se­waktu-waktu bisa berubah jika tidak mendapatkan restu dari pusat,” papar Iswara.

Yang kedua, politik tidak lepas dari pandangan money politics. Itu menjadi peng­ganjal seseorang untuk benar-benar kredibel di mata ma­syarakat. Meski demikian, Iswara menilai, masyarakat saat ini lebih dewasa menyi­kapi money politics.

Laman: 1 2 3 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *