”Saat ini masyarakat lebih pintar. Uangnya diambil, urusan memilih, tergantung mereka senangnya yang mana. Jadi money politics juga tidak menjamin seseorang bisa terpilih,” paparnya.
Sementara itu, narasumber lainnya Yana Mulyana yang juga merencanakan ingin maju dalam ajang pilwalkot, belum bisa mengungkapkan ”dapur” untuk berkampanye. Meski, dia sadar diri jika cost yang diperlukan lebih besar ketimbang calon yang lain. ”Saya belum banyak dikenal. Makanya, saya perlu lebih banyak melakukan sosialisasi,” kata Yana.
Disinggung soal berapa biaya yang dikeluarkan untuk menghadapi Pilwalkot, Yana pun termasuk yang meyimpan rapat rahasia dapur. Namun, yang pasti, karena latar belakang dia sebagai pengusaha, dia mengakui sudah menghitung berapa biaya pengeluaran yang harus digelontorkan demi menyukseskan diri menjabat Bandung 1.
”RAB (rencana anggaran biaya)-nya sudah ada. Karena saya memiliki back ground pengusaha, tentu segala sudah saya perhitungkan. Tapi tentu tak elok jika diungkapkan ke umum.,” tutur Yana.
Sementara itu, salah satu tokoh muda Kota Bandung yang kepincut dalam ajang Pilwalkot nanti, Tubagus Fiki Satari lebih termasuk bijak dalam menyikapi cost politics. Bagi dia, perkara angka itu relatif, tergantung bagaimana calon tersebut menilai pilkada untuk masyarakat.
Dalam diskusi tersebut, dia tidak mengungkapkan berapa dana yang dipersiapkan untuk Pilkada nanti. Namun, dalam pemaparannya, ketua Karang Taruna Kota Bandung ini lebih menjelaskan ide kreatif agar dana kampanye yang dikeluarkan baik itu dari pemerintah ataupun partai politik agar bisa bermanfaat untuk masyarakat.
Dia bahkan memaparkan beberapa langkah yang sebaiknya ditangkap oleh para calon yang akan berkutat di pilwalkot. ”Masyarakat lebih suka sosok pemimpin yang turun langsung ke masyarakat dan membuat program yang berkenaan langsung dengan keinginan masyarakat tersebut,” tuturnya.













