darikita.com, BEKASI – Waroeng Betah kini hadir di Tambun Selatan, sejak lima hari yang lalu. Tempat nongkrong yang digagas beberapa laki-laki ini, yaitu Yoga Pratama, Roby Zaenal Arifin, Hafiz Maulana, Egi trengginas, Cacam Juanda dan Dewa Baskara, mampu bersaing dengan tempat nongkrong lainnya di Kota Bekasi.
Roby mengatakan, dia bersama teman-temannya membuka Waroeng Betah awalnya hanya bertujuan untuk tempat kumpul-kumpul. Tapi karena memiliki jiwa pekerja keras, akhirnya dia dan teman-temannya berfikir untuk membuka usaha yang bisa sekaligus dijadikan tempat nongkrong.
“Alhamdulillahnya, dari yang tujuanya hanya buat tempat nongkrong, sekarang malah jadi tempat usaha,” katanya kepada KBE, Rabu (3/6).
Mengusung konsep minimalis, dengan penataan ruangan yang berdiameter tidak terlalu besar, enam laki-laki ini mendesain dan mendekor ruangan seciamik mungkin. “Ini belum semuanya kelar, masih ada yang ingin kami renovasi lagi, dari segi cat tembok dan penaataanya, jadi kurang lebih temanya adalah klasik minimalis gitu,” ujarnya.
Terkait nama Waroeng Betah, mahasiswa Universita Negeri Jakarta (UNJ) itu menjelaskan, pada awalnya dia dan teman-temanya menamakan tempat usahanya dengan nama Kesot yang artinya Kedai Sosis Tambun.
“Tapi setelah dilirik kanan kiri, ternyata tetangga kita ada juga yang berjualan sosis. Nah makanya kami tidak mau saingan, atau mematahkan jualan orang. Akhirnya setelah dipikir-pikir, Waroeng Betah lah yang cocok buat kita,” ucapnya.
Dengan modal Rp 15 juta, dia dan teman-temanya optimis usaha yang dijalankan dapat berkembang. Apalagi pangsa pasar di daerah tersebut, jarang sekali tempat nongkrong untuk anak muda.
Sementara itu, Yoga yang merupakan mahasiswa Universitas Bhayangkara Kota Bekasi menambahkan, nantinya akan mencoba membuka cabang di Kota Bekasi lainnya. “Kami sih belom tahu, kapan itu terealisasikan. Tapi Insya Allah, kita lihat dulu pergerakanya di sini, next semoga terealisasikan untuk buka cabang,” terangnya.
Dengan menu andalan cilok bakar yang dijual per satu tusuknya Rp 3.000, sangat cocok jika disantap bersama minuman coklat caramel yang dibandrol dengan harga Rp 8.000. Sehingga membuat para pengunjung nagih balik lagi ke Waroeng Betah.
“Kita disini berenam adalah pemilik asli, kita sendiri yang mengelola dan kita sendiri juga yang masak,” ucapnya.
Dia berharap, dengan adanya Waroeng Betah bisa membuat para pengunjung yang datang juga ikutan betah. Walaupun dia dan teman-temanya tahu, tempat nongkrong sudah banyak sekali yang hadir di Kota dan Kabupaten Bekasi, tapi pesan moral yang ingin disampaikan di Waroeng Bbetah hanya satu hal, yaitu kebersamaan.
“Kalo di tempat nongkrong lain, mungkin banyak yang sudah menggunakan fasilitas wifi, tapi kami tidak pasang wifi. Walaupun begitu, Insya Allah dengan gak ada wifi pengunjung yang datang bisa tetap betah. Karena konsep kita buka Waroeng ini untuk ajang berkumpul, bukan buat mencari wifi gratis,” tutupnya.













