Dari pantauan, kondisi sakit gajah betina itu diperparah dengan kondisi kandang yang menyedihkan. Yani dipisahkan dari gajah lainnya dengan alas jerami dan terpal. Nafas gajah asal Lampung tersebut terlihat terengah-engah dengan kondisi badan yang kurus dan lemas.
Sebelumnya, Humas Yayasan Margasatwa Bandung, Sudaryo, gajah tersebut langsung mendapat penganan. ”Ada lima dokter menangani Yani sekarang, Dinas Kesehatan dari Kotamadya, Propinsi, Dinas peternakan, Taman Safari dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam,” katanya.
Saat ini, gajah tersebut sedang ditangani langsung dengan pihak terkait. Selama seminggu, pihaknya masih belum mengetahui penyakit yang dideritanya. Namun, diakui olehnya sudah satu tahun ini Kebun Binatang Kota Bandung tidak memiliki dokter hewan.
Hal tersebut dikarenakan, dokter hewan mengundurkan diri. Dia menerangkan, untuk merekrut dokter satwa liar cukup sulit. Pihaknya tidak bisa menargetkan kapan akan ada pengganti dokter yang mengundurkan diri tersebut.
Walaupun begitu, pihaknya menepis jika kondisi Yani mempengaruhi pengunjung Kebun Binatang. Pada libur panjang minggu lalu, dia menerangkan selama empat hari kurang lebih terdapat 20 ribu pengunjung. Bahkan di hari-hari biasa pun, pengunjung masih cukup banyak.
Pihaknya juga membandingkan dengan jumlah pengunjung pada saat libur lebaran, selama 10 hari terdapat 450 ribu pengunjung. Pengunjung sendiri tidak berkeberatan dengan harga tiket yang dipatok pengelola.
Hari biasa harga tiket dipatok Rp 20 ribu per orang, libur Lebaran Rp 25 ribu per orang dan untuk rombongan Rp 15 ribu per orang. ”Gajah yang sakit tidak mempengaruhi jumlah pengunjung,” katanya.
Dia mengatakan, satwa liar yang sakit baru kali ini terjadi. Sebelumnya tidak ada pernah terjadi hal seperti di kebun binatang Kota Bandung. Bahkan, selama ini tidak ada satwa liar yang mati tiba-tiba di Kota Bandung.












