Portal berita dari masyarakat untuk IndonesiaJaringan Media KRIEZ  •  Redaksi  •  Pedoman Media Siber  •  Pasang Iklan
Dari Kita • Untuk Indonesia
Rabu, 16 September 2026
Bandung, Jawa Barat
Berlangganan
TERKINIKemenkes dan CEPI Uji Kesiapsiagaan Target Vaksin 100 Hari untuk Ancaman Pandemi

Longsor TPA Leuwigajah Akan Tetap Jadi Kenangan Pahit Warga Cireundeu

Oleh • 22 Februari 2019 • 11:51

CIMAHI — Meski sudah 14 tahun berlalu, namun peris­tiwa naas yang menimpa Kampung Cireundeu, Kelu­rahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi, sepertinya tidak pernah akan terlupakan oleh penduduk setempat.

Saat itu, tepatnya pada 21 Februari 2005 silam, di kam­pung tersebut terjadi longsor, namun longsor tersebut bukan tanah layaknya yang sering terjadi. Tapi, longoran yang menimpa warga adalah ber­upa tumpukan-tumpukan sampah. Sebab, kala itu tem­pat tersebut merupakan Tem­pat Pembuangan Akhir (TPA). Akibat kejadian itu, 157 war­ga harus meregang nyawa dan sebagian lainnya harus kehi­langan sanak saudara.

Salah seorang Sesepuh Kam­pung Adat Cirendeu, Asep Abas menceritakan, peristiwa longsor yang terjadi akibat dari ledakan gas metan yang terakumulasi dari ribuan ton sampah itu, yang jadi cikal bakal Hari Hari Peringatan Sampah Nasional. Namun sepertinya, peristiwa tersebut tidak membuat manusia sadar akan kemarahan alam. Se­hingga, sampai saat ini belum sama sekali berdampak pada pengurangan sampah di ma­syarakat.

“Sampai sekarang belum ada dampaknya. Entah alasannya apa. Jadi longsor sampah waktu itu mungkin sudah terlupakan, peringatan HPSN hanya seremonial, kecuali bagi kami, sampai kapanpun ini akan jadi kenangan pahit,” ujar pria yang karib disapa Abah Asep itu saat ditemui usai Upacara Peringatan Long­sor Sampah, di Kampung Cireundeu, Kamis (21/2).

Yang lebih miris, lanjut Abah Asep, bukannya sadar dan iba, tapi saat ini malah ada oknum yang dengan sengaja masih membuang sampah ke Kampung Cire­undeu. Hal itu seakan tak menghargai warga sekitar, dan upaya pemerintah men­jadikan kampungnya seba­gai destinasi wisata.
Lihat Juga:  Adrien Incaran Dua Klub Inggris

”Memang ada oknum apa­rat yang buang sampah disini. Sebetulnya warga sangat menolak, tapi tidak berdaya. Sedangkan kawa­san ini akan jadi tujuan wisata, bertolakbelakang jadinya,” katanya.

Ia menuturkan, selama 20 tahun lebih sebelum peris­tiwa longsor terjadi, kampung­nya menjadi salah satu ling­kungan yang tidak sehat. Sebab, lokasi tempat tinggal mereka dijadikan tempat pembuangan akhir dengan sistem pengelolaannya yang tidak ramah lingkungan.

”Selain itu, efek negatif lainnya adalah Cireundeu dulu terkenal sebagai tem­pat sampah, buka kampung adat seperti sekarang ini,” tuturnya.

Untuk itu, tentu warga sang­at keberatan jika TPA Leuwi­gajah dibuka kembali atau ada lagi yang buang sampah di­tempat tersebut.

”Sudah pasti kami akan me­nolak jika ada wacana tempat ini akan dijadikan tempat pembuangan sampah se­perti dulu. kami akan mati-matian menolaknya,” pung­kasnya. (ziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *