Meski demikian, Hero menegaskan, kelebihan penumpang bukan penyebab kebakaran yang menelan banyak korban jiwa itu. ”Itu karena mesin, mesin kapal meledak, terbakar, merambat. Ditambah lagi geladak kapal hanya ada dua pintu. Zahro ini kan kapal AC jadi geladaknya tertutup beda dengan kapal lainnya,” bebernya.
Hero menambahkan, hingga kini pihaknya masih mencari pemilik kapal KM Zahro Express, Yodi Mutiara Prima untuk dimintai keterangan. Belum diketahui apakah pemilik kapal terlibat dalam kasus kebakaran itu. ”Pemilik kapal belum ada di rumahnya di Jakut, sejak kejadian itu dia tidak pulang ke rumahnya. Kami masih mencarinya,” jelasnya.
Selain itu Hero melanjutkan pihaknya juga tengah memeriksa beberapa saksi seperti anak buah kapal (ABK) dan pihak pengelola untuk terus dimintai keterangan. ”Jika sudah ada tersangka baru kami akan umumkan,” tandasnya.
Sementara itu, Badan SAR Nasional (Basarnas) kembali melakukan pencarian korban terbakarnya Kapal Zahro Express yang masih diduga hilang di antara perairan Pulau Bidadari dan Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu.
Selasa pagi (3/1) Basarnas memulai pencariannya dengan menerjunkan 20 penyelam yang disebar dari beberapa lokasi. Di antaranya dari Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara dan Pelabuhan Kalijapat, Ancol.
”Saya tambahkan penyelam lima lagi. Jadi, dari yang kemarin 15 menjadi 20, dengan sektor pencarian yang masih sama,” kata Kabaghumas Basarnas, Marsudi.
Hingga pukul 16.00 Tim Basarnas pun belum menemukan jasad 17 orang yang hilang di perairan Kepulauan Seribu. Sementara, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih mendalami kelebihan beban listrik AC yang ada di dalam KM Zahro.
”Kami sedang dalami perhitungan beban listrik AC kapal,” kata Ketua Tim Investigasi Pelayaran Zahro Express Aldrin Dalimunte saat dikonfirmasi.













