darikita.com – Bandung – Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan menilai ulama memiliki peranan yang sangat penting dalam menyukseskan program revitalisasi sungai Citarum Harum. Makanya, ulama pun diajak untuk berperan menyadarkan masyarakat.
”Nah, para ulama harus berperan untuk menyadarkan mereka bahwa itu adalah perbuatan yang salah,” kata Ahmad Heryawan, kemarin (21/1).
Pria yang akrab disapa Kang Aher itu menilai, prilaku buang sampah sembarangan tidak hanya salah secara lingkungan karena mengotori dan merusak ekosistem sungai. Dalam pandangan agama pun hal tersebut dinilai salah karena Allah melarang segala perilaku yang menyebabkan kekotoran.
Dikatakan Aher, dalam kaca mata agama air merupakan organ paling penting untuk membantu keberlangsungan hidup manusia. Sebab, kata dia, manusia bisa tetap hidup tanpa makanan selama beberapa waktu tapi tidak bisa hidup tanpa air.
”Meskipun tidak ada makanan manusia tetap bisa hidup, tapi kalau tidak minum selama tiga hari saja maka dipastikan akan wafat,” ujarnya.
Maka dari itu, Aher meminta peranan ulama dalam upaya menyadarkan masyarakat agar tetap bisa menjaga alam dan lingkungan. Sebab, jika tidak mampu menjaga hal tersebut, maka dipastikan alam akan rusak karena semua pasokan kehidupan seperti sandang, pangan maupun papan bersumber dari alam.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (LD PWNU) Jawa Barat Gus Ali Fadhil apresiasi terhadap langkah pemerintah yang menjaring ulama dalam persoalan Citarum.
Gus Ali menuturkan, selama ini para ulama hanya fokus terhadap isu Hablum Minallah dan Hablum Minannas saja dan mengesampingkan Hablum Minal Alam yang merupakan cara agar manusia mampu menjaga alam. ”Kita ini dibentuk oleh alam, maka wajib pula kita mencintai alam,” kata Gus Ali.
Gus Ali mengatakan, forum tersebut harus menjadi ujung tombak bagi para ulama karena sebelum masyarakat mengaplikasikan budaya hidup bersih yang mencintai alam. Makanya, ulama harus lebih dulu memberikan contoh sebagai penyadaran kepada masyarakat.
Menurutnya, dalam menyelesaikan permasalahan alam dan lingkungan ini tidak boleh ada sekat organisasi. Jika berbicara alam, maka semua organisasi baik itu NU, Persis dan Muhammadiyah harus bersatu agar bisa menyukseskan program tersebut.
”Sekarang ada ubudiyah (ibadah) yang berhubungan dengan alam, bagaimana sungai itu harus bersih dan ini harus terealisasi,” tandasnya.
Maka dari itu, sebagai seorang ulama dirinya merasa memiliki kewajiban untuk memberikan pengertian dan penyadaran kepada masyarakat bahwa kebersihan adalah pangkal dari keimanan sesorang. Sebab menurut Gus Ali, jika sesorang tidak mampu menjaga kebersihan, maka keimanannya tidak ada dan patut dipertanyakan.
Terlebih, Gus Ali menilai 90 persen masyarakat Jawa Barat adalah seorang muslim yang tentunya harus menjaga kebersihan diri saat akan beribadah. Untuk itu, kewajiban masyarakat adalah menjaga kebersihan dan lingkungan serta nomor satunya adalah menjaga kebersihan air. ”Sebab, air adalah organ nomor satu untuk bisa membersihkan,” tandasnya lagi. (mg1/rie)













