banner

Rahmat Andri Yana, Bersepeda Keliling Indonesia sambil Memungut Sampah di Jalan

darikita 13 Maret 2017
AHMAD KHUSAINI / JAWA POS KARENA PRIHATIN: Rahmat Andri Yana (kenan) berbincang dengan Kepala DKP Kota Surabaya, Chalid Bukhari di Surabaya.
vertical banner

Tujuh hari pertama, fisik dan mental Mamat diuji. Sebab, dia bukan atlet sepeda yang terlatih bersepeda jauh. Fisik dan mentalnya kecapekan. Mulai lemah. Tubuh jangkungnya tambah kurus. Hampir tak ada lemak untuk cadangan tenaganya.

Saat itu dia sudah sampai di Purworejo, Jateng. Semangatnya untuk menyelesaikan misi keliling Indonesia tiba-tiba meredup. Dia mengaku ingin menyerah dan berbalik arah menuju rumah.

Pria yang pernah menjadi tenaga honorer di Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi tersebut lalu duduk termenung di pinggir jalan. Teringat celoteh dan tangis anaknya. Dipandanginya foto-foto anak dan istrinya di handphone miliknya. Dia lelah, haus, dan lapar. Tak ada seorang pun yang menemaninya.

”Oh, begini ya rasanya hidup sendiri,” ucap pemilik tinggi 170 sentimeter dengan berat 56 kilogram itu.

Jika menyerah, dia pasti tidak akan mendapatkan restu untuk kali kedua dari istrinya. Pikiran yang saling berseberangan membuatnya pusing. Dia akhirnya tertidur. Setelah terbangun, jarum jam sudah menunjuk pukul 17.00. Langit hampir gelap, dia bergegas ke pusat kota. Secepatnya dia mencari masjid untuk salat dan menginap.

Selain tidak akan mendapat restu kali kedua dari sang istri, Mamat bakal sulit memperoleh restu dari mertua. Apalagi, sebelum berangkat, dia menandatangani surat perjanjian bermeterai dengan sang mertua. Isinya menyatakan, bila lebih dari setahun tidak pulang, Mamat dipersilakan menceraikan istrinya.

Dia bisa memaklumi tuntutan mertuanya tersebut. Sebab, mana ada mertua yang merelakan anaknya hidup bersama suami yang ”aneh” dan tidak jelas.

Perjalanan berlanjut dengan sisa tenaga dan mental terus tergerus. Akhirnya dia tiba di Jogjakarta. Di Kota Gudeg, dia disambut sejumlah komunitas sepeda. Namun, dia tidak bisa berlama-lama. Perjalanan harus dilanjutkan. Saat sampai di Sragen, ada seorang pesepeda dari Jogja yang menyusulnya. Dia adalah Sanityoso Andaru. Sani bermaksud menemani Mamat menjalankan aksinya. Ketika itulah, semangatnya membara lagi.

Untuk Anda
Terbaru