’’Ternyata Tuhan tidak diam. Dia mengirimkan teman sehingga semangat saya kembali menggebu-gebu,’’ ucapnya.
Sani punya tujuan sama dengan Mamat. Pemuda 21 tahun itu ingin bersepeda ke timur. Menuju Banyuwangi. Namun, sepedanya lebih terlihat mentereng ketimbang sepeda Mamat yang sudah berlepotan oli. Sani tak tega memberi tahu harga sepedanya ke Mamat. Yang jelas, sepeda mountain bike (MTB) seharga puluhan juta milik Sani itu bisa dikayuh lebih kencang ketimbang sepeda lipat Mamat yang dibeli seharga Rp 500 ribu.
Tak heran, dalam perjalanan, mahasiswa Institut Pertanian (Stiper) Jogjakarta tersebut berkali-kali meninggalkan Mamat. Apalagi, sesuai dengan misinya, Mamat mesti memunguti sampah plastik yang dibuang sembarangan di jalan. Sampah-sampah itu, setelah penuh di keranjang, diberikan kepada pemulung yang ditemui di jalan.
Dalam sehari, Mamat bisa mengumpulkan sedikitnya 2 kg sampah plastik. Dia tidak lagi ingat sudah berapa pemulung yang disedekahi sampah plastiknya.
Meski berjalan dengan kecepatan sedang, akhirnya Mamat dan Sani tiba di Surabaya Rabu dini hari lalu (8/3). Mereka kemudian menginap di kompleks kantor Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya. Oleh Kepala DKRTH Chalid Buhari, dua pesepeda itu diminta tidur di dalam kantornya. Namun, keduanya menolak. Mereka memilih bermalam di masjid DKRTH.
Paginya, Mamat bertemu dengan Chalid. Selain menjelaskan tujuannya bersepeda keliling Indonesia, Mamat minta stempel dan tanda-tangan dari Chalid di buku catatan perjalanannya. Di setiap kota, dia memang selalu meminta tanda tangan stempel dari pejabat setempat untuk bukti perjalanannya. Bisa orang pemda, polsek, ataupun koramil.
Mamat mengakui, setiap meminta tanda tangan dan stempel, dirinya sering diberi uang. Namun, dia selalu menolaknya. Sebab, dia tidak ingin aksinya terkesan meminta-minta bantuan. Dia justru ingin memberi sesuatu kepada orang lain. Meski, pemberiannya itu sekadar contoh agar orang tidak membuang sampah sembarangan.













