Portal berita dari masyarakat untuk IndonesiaJaringan Media KRIEZ  •  Redaksi  •  Pedoman Media Siber  •  Pasang Iklan
Dari Kita • Untuk Indonesia
Sabtu, 7 November 2026
Bandung, Jawa Barat
Berlangganan
TERKINIPP TUNAS Dorong Platform Digital Melindungi Sekitar 70 Juta Anak Indonesia

Rahmat Andri Yana, Bersepeda Keliling Indonesia sambil Memungut Sampah di Jalan

Oleh • 13 Maret 2017 • 06:52

Mamat menjalaskan, aksi berkeliling Indonesia sambil memungut sampah itu dilakukan untuk memperingati peristiwa longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi Selatan, 21 Februari 2005. Musibah tersebut menelan 157 jiwa sehingga layak menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sampah yang benar. Peristiwa itu juga diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Masalahnya, dalam beberapa tahun terakhir, Mamat melihat peringatan tersebut lebih terkesan sebagai acara perayaan. ’’Kumpul, senang-senang, buang sampah bersama-sama, lalu lupa,’’ tutur pria yang memiliki segudang pengalaman mengelola bank sampah itu.

Mamat salut dengan masyarakat dan Pemkot Surabaya yang sangat peduli sampah sehingga jarang menemukan sampah-sampah plastik yang dibuang sembarangan. Di sepanjang Jalan Kertajaya, misalnya, dia hanya mendapatkan beberapa botol air mineral. Pasukan kuning sudah lebih dahulu membersihkannya.

Di Surabaya, Mamat berpisah dengan Sani. Sani akhirnya kembali ke Jogjakarta (tidak jadi finis di Banyuwangi) karena harus kuliah. Sedangkan Mamat meneruskan misinya. Sebelum menuju Banyuwangi, dia sempat blusukan ke kampung-kampung di Surabaya. Salah satunya menemui Komunitas Nol Sampah di Kecamatan Rungkut. Dia berbagi ilmu tentang bank sampah ala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Cimahi.

Kemarin (11/3) Mamat sudah sampai Pasuruan. Dia mengabarkan sepeda lipatnya terserempet mobil. Akibatnya, jalan sepedanya sudah tidak normal. Dia berencana mencari bengkel saat tiba di kota.

Selain mengalami kerusakan, hingga kini sepeda lipat Mamat sudah mengalami tiga kali ban pecah. Ban belakang juga sudah diganti karena robek. Dia memperbaiki semua sendiri.

Mamat merasa waswas saat melintas di Taman Nasional Baluran nanti. Sebab, dia harus membelah jalan di tengah hutan. Jauh dari permukiman. ’’Tapi, saya tetap yakin dapat perlindungan Allah. Itung-itung latihan. Di Papua nanti sepertinya lebih berat,” terangnya.

Laman: 1 2 3 4 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *