Deddy menambhkan, dalam pembangunan infrastruktur seharusnya pemerintah pusat memberikan porsi lebih kepada Pemprov Jabar, sebab bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Jawa Barat kebutuhan infrastruktur baru merupakan suatu keniscayaan. ”Jabar itu penduduknya 64 juta jiwa lebih, dan tiap tahunnya pasti bertambah. Ini yang harus kita pikirkan,” pungkas dia.
Di tempat sama Wali Kota Bogor Bima Arya menilai adanya Tol Bocimi, Kota Bogor akan mendapat keuntungan besar sehingga dalam pelaksanaannya butuh percepatan.
Dirinya menilai, sebagai perbandingan pasca-reaktivasi jalur rel kereta api tujuan Bogor-Sukabumi pergerakan ekonomi Kota Hujan ini merangkak naik. Salah satu contohnya adalah banyaknya warga Sukabumi yang berkunjung ke Kota Bogor untuk berbelanja atau sekadar menghabiskan waktunya di bioskop pada akhir pekan.
”Jadi dalam aspek jasa dan wisata, pembangunan infrastruktur koridor tol dan reaktivasi jalur kereta api sangat bagus,” ujar Bima.
Jika pembangunan koridor tol tersebut dapat segera diselesaikan, maka Bima optimistis pergerakan ekonomi Bogor dan Sukabumi akan semakin merangsek naik. Pasalnya, sebagai salah kota destinasi wisata, Kota Bogor berperan besar sebagai etalase produk-produk UKM Sukabumi. “Proses produksinya di Sukabumi dan nanti akan dipromosikan di Bogor,” ujar Bima.
Meski demikian, Bima mengaku masih ada beberapa kendala yang harus dihadapi Pemerintah Kota Bogor terkait pembangunan koridor tol Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung yaitu masih adanya beberapa bidang lahan yang masih harus dibebaskan.
Bima menuturkan, untuk pembangunan koridor tol di Kota Bogor, ada 718 bidang tanah dengan luas sebesar 4.484 meter persegi. Sedangkan bidang tanah yang masih tertunda untuk dibebaskan ada sebanyak 30 bidang.
”Yang belum dibebaskan saat ini masih sedang dalam proses di Kementerian Agama karena statusnya tanah wakaf. Secara keseluruhan prosentase pembebasan lahan yang sudah kami lakukan adalah 95,82 persen,” ujar Bima.













