”Kami masih berharap ada pihak lainnya yang membuka lahan konservasi lainnya,” ungkapnya.
Menanggapi hal tersebut, Pihak yayasan Kebun Binatang Kota Bandung Dadang mengatakan akan memenuhi standar minimum yang diharapkan oleh BBKSDA Jawa Barat. “Kami kan melakukan perbaikan untuk setiap kandang hewan yang ada di sini sebagaimana yang diharapkan oleh BBKSDA Jawa Barat,” katanya.
Membantah tuduhan yang ada, pihaknya mengklaim tetap mengurus 900 ekor hewan liar di Kebon Binatang Bandung. ”Sebanyak 900 ekor itu diurusi oleh kurang lebih 82 orang pegawai setiap harinya,” katanya.
Emil Siap Ambil Alih
Sementara itu, terkait otopsi kematian Yani, gajah mati penghuni Kebon Binatang Bandung, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil berjani akan meminta hasilnya kepada siapapun yang miliki otoritas kajian ilmiah tersebut.
”Otopsi itu ilmiah, tapi saya akan meminta hasilnya. Pokoknya, laporannya pasti kami akan minta,” kata Emil, sapaan akrab wali kota Bandung itu, usai Sidang Paripurna LKPJ Wali Kota Bandung, tahun 2015, di Gedung DPRD Jalan Sukabumi, kemarin (12/5).
Dia menjelaskan, pemerintah harus tahu latar belakang kematian Yani. Sebab, kalau sumber kematiannya akibat tidak terurus, berarti satwa lain di Kebon Binatang juga ikut terancam. Sehingga, pihaknya akan mengirim surat ke Kementerian. ”Saya akan meminta untuk diaudit investigasi, ini sudah menyangkut nama Bandung,” ujar Emil.
Menyoal, sorotan warga terhadap ciutannya di media sosial tentang ajakan boikot Kebon Binatang Bandung, dia menilai, jangan diartikan sempit.
Boikot itu, maksudnya bukan dalam arti keras. Sebab, banyak petisi warga yang harus diperhatikan. Maka, pengelola harus bijak memikirkan solusi keberlangsungan Kebon Binatang.
”Ini mah dinasehati tidak bergeming. Malah menjawab dengan modus-modu negatif. Masasih, mau berbisnis dengan urusan nyawa, meski itu hewan. Tapi harus benar mengurusnya. Intinya, boikot ini hanya simbolis saja,” kata Emil.













