Selanjutnya sekolah memegang peran kunci untuk proses rehabilitasi. Dia mengatakan anak-anak yang memiliki kecenderungan nakal, jahat, dan perilaku menyimpang lainnya sejatinya bisa dideteksi oleh guru. Sayangnya guru cenderung memikirkan tugasnya sebagai pengajar di depan kelas.
Pria kelahiran Malang 73 tahun silam itu menjelaskan, sekolah harus mengenali anak yang labil dan stabil. Kemudian anak-anak yang labih harus ’’ditandai’’ kemudian dirangkul. Cara mendeteksi anak-anak yang labil itu bisa melihat perilaku sehari-harinya. Seperti sering ngantuk di kelas, berarti kerap begadang. Atau anak yang mendadak menjadi pemarah dan hiperaktif, juga menunjakkan gejala tidak sehat dalam kehidupannya sehari-hari.
Dan terakhir adalah aspek pemberian sanksi. Anak-anak yang terang-terangan melanggar norma hukum dan susila, langsung dijatuhi hukuman seuai peraturan yang berlaku. Supaya menjadi contoh bagi kawannya untuk tidak melakukan kegiatan serupa.
Ketua Yayasan Lazuardi Haidar Bagir menuturkan anak-anak yang terlibat dalam kejahatan sejatinya memiliki kekosongan di dalam dirinya. Kekosongan itulah yang akhirnya dimasuki konten-konten negatif. Konten negatif itu bisa dari tayangan televisi, game, atau akses tayangan porno yang mudah.
Nah untuk mencegah anak-anak tidak terseret ke perilaku menyimpang, jangan sampai berada dalam kondisi kosong. Orangtua atau guru, wajib mengisi jiwa anak-anak itu dengan tujuan yang positif atau cita-cita. Jika pengisian cita-cita itu sudah tertanam, maka tujuan hidup keseharian anak-anak adalah mengejar cita-cita itu. ’’Anak-anak ini sudah tidak ada lagi prioritas untuk berdekatan dengan pengaruf-pengaruf negatif seperti televisi, game, atau lainnya,’’ jelas dia.
Haidar juga berpesan kepada sekolah supaya tidak cenderung menghargai anak-anak yang berprestasi secara koginitif saja. Sehingga dia sangat tidak cocok dengan sitem pemeringkatan (ranking) berdasarkan nilai rapor.













