JAKARTA — Bank Indonesia mendorong penguatan sinergi lintas lembaga agar likuiditas perbankan lebih efektif mengalir menjadi pembiayaan bagi UMKM dan sektor prioritas.
Dalam siaran pers 3 September 2026, BI menekankan bahwa ketersediaan likuiditas perlu diikuti transmisi yang baik ke sektor produktif. Tujuannya adalah memperkuat ekspansi usaha, meningkatkan produktivitas, serta membuka lapangan kerja.
Likuiditas perlu benar-benar masuk ke sektor produktif
Likuiditas yang memadai di sistem keuangan tidak otomatis meningkatkan pembiayaan. Perbankan tetap mempertimbangkan kualitas debitur, prospek usaha, risiko, struktur biaya, serta kondisi ekonomi ketika menyalurkan kredit atau pembiayaan.
Karena itu, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, lembaga keuangan, dan pelaku usaha menjadi penting agar insentif dan kebijakan dapat diterjemahkan menjadi pembiayaan yang tepat sasaran.
UMKM membutuhkan akses dan kesiapan usaha
Bagi UMKM, peluang pembiayaan perlu diimbangi dengan pencatatan keuangan yang lebih tertib, legalitas usaha, rekam transaksi, dan rencana penggunaan dana yang jelas. Kesiapan tersebut membantu lembaga keuangan menilai kelayakan dan kemampuan bayar.
Pelaku usaha juga perlu membedakan antara kebutuhan modal kerja dan investasi. Pembiayaan sebaiknya diarahkan pada kegiatan produktif yang memiliki arus kas dan rencana pengembalian realistis.
Penguatan intermediasi yang sehat diharapkan memperbesar kontribusi sektor riil terhadap pertumbuhan tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dan stabilitas sistem keuangan.
Sumber: Bank Indonesia, siaran pers “Sinergi Merah Putih Jadi Kunci Optimalisasi Likuiditas Untuk Intermediasi”, 3 September 2026. Ditulis ulang secara editorial oleh DariKita.online.




