Kota Bandung yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan udara sejuk kini menghadapi tantangan perubahan suhu. Fenomena panas perkotaan semakin menjadi perhatian seiring meningkatnya kawasan terbangun, kepadatan aktivitas dan tekanan terhadap ruang terbuka hijau (RTH).
Data penelitian menunjukkan suhu permukaan lahan di Bandung mengalami kecenderungan meningkat dalam dua dekade terakhir. Salah satu kajian terkait Urban Heat Island (UHI) di Bandung menunjukkan perkembangan kawasan terbangun berpengaruh terhadap peningkatan suhu permukaan.
Fenomena UHI sendiri terjadi ketika kawasan perkotaan memiliki suhu lebih tinggi akibat dominasi bangunan, beton dan aspal yang menyerap serta menyimpan panas.
Kondisi tersebut semakin relevan dengan perkembangan kawasan perkotaan Bandung dan wilayah Cekungan Bandung yang terus mengalami perubahan tutupan lahan.
Pengamat tata kota Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Yudi Asep, menilai persoalan suhu panas di Bandung tidak bisa hanya dikaitkan dengan perubahan iklim global.
Menurutnya, perubahan wajah kota akibat pembangunan yang semakin padat juga menjadi faktor yang memperkuat fenomena urban heat island.
“Bandung ini semakin padat. Permukaan yang tertutup beton dan aspal semakin banyak, sementara ruang hijau yang berfungsi sebagai pendingin alami kota masih terbatas. Ini yang kemudian memperkuat fenomena urban heat island,” ujar Yudi, kepada Jabarekspres Minggu (23/8).
Yudi mengatakan, pemerintah daerah perlu melihat persoalan suhu panas sebagai bagian dari persoalan tata ruang, bukan sekadar fenomena cuaca.
Menurut dia, RTH memiliki fungsi ekologis yang jauh lebih besar daripada sekadar mempercantik wajah kota.
“RTH bukan hanya soal mempercantik kota. RTH itu memiliki fungsi ekologis, menyerap air, menurunkan suhu dan memperbaiki kualitas udara. Kalau ruang hijau terus tertekan oleh pembangunan, maka panas di perkotaan akan semakin sulit dikendalikan,” katanya.
Data Pemerintah Kota Bandung menunjukkan luas RTH publik hingga 2024 mencapai 1.143,34 hektare atau sekitar 6,83 persen dari total wilayah Kota Bandung seluas 16.729,65 hektare.
Angka tersebut telah melampaui target tahunan 2024 sebesar 6,78 persen, tetapi masih menunjukkan bahwa ruang hijau publik hanya mencakup sebagian kecil dari wilayah kota.
Pemkot Bandung sendiri terus melakukan penambahan RTH melalui berbagai program, termasuk serah terima prasarana, sarana dan utilitas perumahan, pembangunan taman RW serta pengadaan lahan untuk taman dan RTH.
Namun, menurut Yudi, penambahan RTH harus diikuti dengan kebijakan yang lebih kuat untuk mempertahankan ruang hijau yang sudah ada.
“Jangan sampai kita menyelesaikan persoalan panas dengan menambah pendingin di dalam gedung, tetapi di luar gedung kotanya semakin panas. Yang harus dibenahi adalah desain kotanya,” tegasnya.
Ia menilai kebijakan pembangunan kota perlu memperhitungkan dampak termal dari setiap perubahan penggunaan lahan.
Artinya, pembangunan gedung, kawasan komersial, jalan maupun infrastruktur lainnya harus tetap memperhatikan keberadaan pohon, kawasan resapan dan koridor hijau.
Yudi juga meminta Pemkot Bandung memperkuat perlindungan terhadap pohon-pohon eksisting. Sebab, menurutnya, menanam pohon baru tidak serta-merta menggantikan fungsi ekologis pohon yang telah berusia puluhan tahun.
“Bandung harus mulai melihat pohon dan ruang hijau sebagai infrastruktur kota, sama pentingnya dengan jalan dan bangunan. Kalau infrastruktur hijaunya lemah, maka kota akan semakin rentan terhadap panas,” ujarnya.
Kenaikan suhu Bandung juga tidak bisa dilepaskan dari tren pemanasan yang terjadi secara global maupun nasional.
BMKG mencatat suhu rata-rata Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 27,05 derajat Celsius, lebih tinggi dibandingkan normal klimatologis periode 1991-2020 yang berada di kisaran 26,7 derajat Celsius.
Di tingkat perkotaan, dampak perubahan iklim tersebut dapat semakin terasa ketika kawasan memiliki banyak permukaan kedap air seperti aspal, beton dan bangunan.
Kajian mengenai perubahan tutupan lahan juga menunjukkan bahwa berkurangnya vegetasi dan bertambahnya kawasan terbangun dapat berkaitan dengan peningkatan suhu permukaan.
Karena itu, Yudi menilai Pemkot Bandung harus mulai memasukkan indikator suhu perkotaan dalam evaluasi pembangunan.
“Kalau suhu terus meningkat, dampaknya bukan hanya warga merasa gerah. Konsumsi energi meningkat, kebutuhan pendinginan meningkat, kualitas lingkungan menurun dan pada akhirnya kualitas hidup masyarakat ikut terdampak,” katanya.
Penulis: Sadam Husein SR.
Editor: H Priyadi




