Ilustrasi visual dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).
JAKARTA — Arah pembangunan rendah karbon dinilai bukan hanya agenda lingkungan, tetapi juga perubahan lanskap ekonomi yang membuka peluang baru bagi dunia usaha. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mendorong pelaku bisnis memahami transisi tersebut sebagai bagian dari strategi investasi dan daya saing jangka panjang.
Perubahan teknologi, tuntutan pasar, dan kebijakan global membuat perusahaan perlu menghitung jejak emisi, efisiensi energi, serta risiko iklim dalam keputusan bisnis. Sektor energi, transportasi, industri, dan pembiayaan menjadi area penting dalam proses transisi.
Investasi dan inovasi
Ekonomi rendah karbon dapat mendorong investasi pada energi terbarukan, kendaraan rendah emisi, efisiensi bangunan, pengelolaan limbah, dan teknologi produksi yang lebih bersih. Peluang itu juga dapat melibatkan usaha kecil melalui rantai pasok hijau dan penyediaan jasa pendukung.
Pemerintah tetap perlu menjaga agar proses transisi berlangsung bertahap dan adil. Kepastian regulasi, pembiayaan yang terjangkau, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta perlindungan bagi kelompok terdampak menjadi faktor penting.
Bagi perusahaan, kesiapan data dan rencana pengurangan emisi dapat membantu memenuhi tuntutan investor serta pasar ekspor. Namun, klaim keberlanjutan harus didukung ukuran yang jelas agar tidak menyesatkan konsumen.
Sumber: Kementerian Keuangan Republik Indonesia, 26 Agustus 2026. Artikel disusun ulang secara orisinal berdasarkan informasi resmi.




